Docotel Official Blog
Big Data adalah

Fun Fact: Sering Nggak Sadar, Kita Ikut Menyumbang Ketenaran Big Data, Lho!

Apakah ada yang tak kena imbas Revolusi Industri 4.0? Sepertinya sangat kecil kemungkinannya yaa.. Jika diperhatikan, kini perkembangan teknologi tak lagi milik para “jetset”. Meski beberapa istilah, seperti big data, belum terlalu familiar, tetapi peran industri 4.0 telah menyentuh berbagai lapisan masyarakat di berbagai sektor kehidupan.

Sebenarnya big data bukan sebuah teknologi, teknik, maupun inisiatif yang berdiri sendiri, tapi merupakan suatu tren yang mencakup area luas dalam dunia teknologi dan bisnis. Saat ini big data menjadi salah satu elemen penting karena memiliki peranan sebagai pengelola informasi. Banyak alat atau media yang tanpa disadari dapat menjadi sumber suplai data di internet. Berbagai aktivitas yang kita lakukan pun akhirnya turut menambah database di dunia siber.

Jadi, ‘keajaiban’ fakta apa saja yang menyertai keberadaan big data? Baca sampai habis ya, karena ada kasus negatif big data juga yang harus kita waspadai dan cegah.

Belanja online: transaksi uang dan data

Kamu sering berbelanja melalui aplikasi e-commerce? Kalau jawabannya iya, berarti kamu ‘diam-diam’ turut berkontribusi dalam mengirimkan data ke database dunia siber. Tidak hanya list belanjaan kamu saja, tetapi setiap detail informasi yang di-input nantinya membentuk big data di sistem perusahaan e-commerce tersebut, misalnya alamat keberadaanmu.

Rajin mengunggah di media sosial, pangkal kekayaan big data

Saat kamu membagikan cuitan di Twitter, menekan tombol love di Instagram, atau mengirim dokumen melalui e-mail, hal tersebut menjadi sumber big data. Melansir Forbes, setiap menit terdapat 527.760 foto yang diunggah para pengguna SnapChat dan lebih dari 120 profesional (pengguna baru) bergabung dengan LinkedIn. Tidak hanya itu, per menit juga ada 293.000 status baru bermunculan di Facebook dan lebih dari setengah juta komentar terposting di media sosial milik Mark Zuckerberg tersebut.

Kamu tidak mungkin menghitung big data secara manual

Jika kamu menghitung data-data yang masuk ke dalam sebuah sistem secara manual, jelas akan menguras tenaga dan waktumu. Bayangkan saja, dalam sehari terdapat 2,5 quintillionbyte data yang tercipta dari seluruh dunia dan berasal dari berbagai sumber. Terhitung 800.000 petabyte data terkumpul dari berbagai penjuru bumi pada tahun 2000 dan angka tersebut diprediksikan akan mencapai 40 zettabyte atau bahkan lebih di tahun 2020.

Big data pun ada di sektor kesehatan

Sekarang big data diberdayakan juga di sektor kesehatan. Penerapan big data memudahkan para dokter atau peneliti untuk memeriksa suatu penyakit di biobank yang terkoneksi dengan riwayat perawatan pasien. Dengan begitu, adanya big data di sektor kesehatan dapat meminimalkan malapraktik. Big data berperan penting dalam menyimpan rekam medis pasien. Nantinya pihak rumah sakit tinggal mencari data pasien di database yang tentunya lebih cepat dan lengkap. Selain itu, tidak ada lagi alasan berkas hilang atau tertukar.

Berinvestasi di big data? Bisa, tapi butuh dana besar.

Jika kamu berencana mendirikan perusahaan yang memanfaatkan big data, maka kamu harus menyiapkan dana yang tebal. Misalnya, Citilink telah berinvestasi Rp10 Miliar untuk big data, begitu pun dengan GoJek yang tiap bulannya membakar uang sampai Rp400 miliar. Untuk apa dana sebanyak itu? Dana tersebut mereka gelontorkan untuk mendanai database seperti Cloud dan Big Data Analytic. Dari sana perusahaan dapat menganalisis kumpulan data transaksi, memetakan kecenderungan konsumen, dan lain sebagainya. Meski membutuhkan banyak dana, keuntungannya bisa jauh melebihi modal awal, lho.

Big data menjadi mata kuliah kekinian di Indonesia

Beberapa perguruan tinggi di Indonesia mulai membuka prodi juga mata kuliah tentang big data. Serius, ada? Ada, jika kamu yang ingin mendalami big data di perkuliahan, maka Universitas Multimedia Nusantara (UMN), Universitas Indonesia (UI), Universitas Negeri Jakarta (UNJ), dan Universitas Gadjah Mada (UGM) bisa menjadi pilihan. Bukan hanya menjadi subjek kekinian, hadirnya prodi maupun mata kuliah ini juga bertujuan menghasilkan lulusan dengan kemampuan pemrograman dan analisis data yang tinggi. Gimana, tertarik untuk belajar big data?

Dapatkah menghapus data di Internet?

Sekali kamu mengunggah data (foto, video, dan lainnya) di dunia maya maka akan menjadi jejak digital yang tidak bisa dihapus. Kamu memang bisa saja menghapus unggahan di akun media sosial atau suatu layanan internet, tapi belum tentu dengan sistem database-nya, sebab pengguna hanya mampu menonakftikan. Misalnya saat kamu berbagi lokasi perjalanan yang terekam oleh Google Maps atau menyebar artikel dari suatu situs ke pengguna lain, sadar atau tidak sadar data-data tersebut pasti tertinggal di server perusahaan yang bersangkutan. Ayo, data apa aja yang sudah kamu upload?

Hati-hati sebelum mengisi data pribadi

Apakah kamu pernah tiba-tiba mendapatkan spam (pesan yang dikirim secara masif dan tidak diinginkan serta mengganggu) atau telepon dari seseorang yang menawarkan sebuah produk atau layanan jasa? Jika ya, lalu timbul pertanyaan, dari mana orang itu bisa tahu kontakmu. Nyatanya, hal tersebut tidak hanya menimpa dirimu saja mengingat saat ini data pribadi seseorang dapat menyebar dengan mudahnya melalui proses jual beli data baik secara offline maupun daring. Lho, kok bisa?

Tersebarnya data pribadi bisa terjadi karena beberapa faktor, mulai dari aksi peretasan,  kecerobohan sendiri misalnya memasukan data pribadi di sebuah portal atau aplikasi yang tidak jelas asal-usulnya, mengisi kuisioner berhadiah (voucher/kupon) yang ternyata itu akal-akalan untuk memperoleh data pribadi, hingga oknum perusahaan seperti perbankan atau e-commerce yang memperjualbelikan data pelanggannya sendiri. Contoh kasus terkait jual beli data terjadi pada tahun 2012 yang mengakibatkan MasterCard dilaporkan dengan tuduhan menjual data pengguna firma kartu kredit pada pengiklan.

Melansir CNN Indonesia, beberapa situs di Indonesia secara terang-terangan menjual data pribadi di dunia maya. Data pribadi tersebut merupakan data milik nasabah kartu kredit yang berisi nama, nomor ponsel, alamat, nomor KTP, bahkan nomor kartu kredit. Salah satu situs bernama Data Sakti dilaporkan memiliki 945.800 data pribadi di databasenya dan dijual di internet. Satu data pribadi di situs ini dibandrol dengan harga Rp5.000. Coba hitung, berapa keuntungan yang didapatkan jika berhasil menjual 945.800 data?

Lalu, bagaimana jika kontakmu terus “diteror”? Tenang, kamu bisa mengadukan nomor tersebut ke akun Twitter @aduanBRTI yang nantinya akan melakukan pemblokiran melalui Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI). Informasi lebih lanjut terkait cara pengaduan, kamu bisa mengunjungi portal resmi Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) di sini!

Lukman M. Ardiansyah

Lukman M. Ardiansyah

Add comment

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.

Most discussed