Docotel Official Blog
docotel official blog_Memanfaatkan IoT dan Big Data dengan Benar Bisa Putus Rantai Pandemi COVID-19

Memanfaatkan IoT dan Big Data dengan Benar Bisa Putus Rantai Pandemi COVID-19

Love in the Time of Cholera merupakan novel fiksi dari seorang penulis Spanyol, Gabriel Garcia Marquez yang diterbitkan pada 1985 dan mendapat penghargaan dari berbagai ajang sastra dunia. Meski fiksi, fenomena cinta yang diungkapkan dalam novel tersebut menunjukkan kemampuan manusia untuk bertahan di tengah berbagai badai, termasuk pandemi. Dengan sedikit mengulas isi novel, penulis ingin merepresentasikan kondisi masyarakat dan pemerintah saat ini yang sedang mengupayakan beragam teknologi untuk memerangi Coronavirus disease (COVID-19).

Realita menunjukkan teknologi yang kita butuhkan untuk segera diterapkan sekarang bukanlah mobil terbang atau senjata nuklir yang selama ini diperkirakan, tetapi justru yang berkaitan dengan kesehatan masyarakat. Seperti yang diperkirakan oleh Bill Gates saat berbicara di TEDTalks, masa depan kita akan dihantui oleh virus kecil yang akan menyebar dengan cepat tanpa sebuah persiapan yang cukup memadai. Dan kini, rantai pandemi COVID-19 sebenarnya bisa kita putus dengan memanfaatkan teknologi Internet of Things (IoT) dan Big Data secara tepat guna.

Internet of Things (IoT) Bukan Penimbul Kepanikan

Hampir setiap hari berbagai media massa memberi update terkait pasien COVID-19 di Indonesia dan negara-negara lain. Misalnya, publikasi mengenai rentang usia para pasien yang telah diisolasi dan dikarantina. Berita seperti ini dapat dengan mudah kita akses melalui bantuan internet (Internet of Things/IoT).

Tak hanya media massa, media sosial dan aplikasi pesan instan (instant messaging) juga turut membantu menyebarkan informasi terkait COVID-19. Laporan-laporan jurnalistik telah diramu menjadi infografik menarik atau animasi video ciamik yang membuat masyarakat lebih mudah memahami berita melalui peran IoT.

Namun, penyebaran berita melalui media sosial atau media massa juga bisa menjadi pisau bermata dua. Jika pengguna tidak berusaha mencari konfirmasi atas suatu informasi, maka esensi dari berita yang disampaikan bisa bergeser. Pandemi COVID-19 ini turut menimbulkan misinformasi yang meluas di masyarakat. Misinformasi merupakan fenomena post-truth—yang membuat masyarakat lebih banyak merespons lebih banyak dengan emosi/perasaan daripada faktadi era digital. Misinformasi terjadi karena masyarakat tidak tahu apakah informasi yang disebarkan itu merupakan kebohongan atau fakta yang kemudian bisa saja diikuti hoaks.

Penyebaran virus yang cepat dan meluas membuat warga dunia seakan berlomba membagikan informasi terkait COVID-19. Di Indonesia misalnya, informasi mengenai tisu basah yang bisa menjadi alternatif untuk mencegah penularan COVID-19 tersebar cepat akibat stok masker berkurang drastis diikuti dengan lonjakan harga yang cukup signifikan. Melansir CNN Indonesia, Ketua Presidium Mafindo (Masyarakat Anti Hoaks Indonesia) Septiaji Eko Nugroho mengatakan informasi terkait virus Korona mulai muncul pada Januari 2020 dan berdasarkan hasil pantauan hingga 3 Maret 2020, ada 103 topik tentang hoaks virus Korona yang beberapa di antaranya menimbulkan kepanikan masyarakat. Sebanyak 33 persen laporan yang keliru mengenai tempat terdampak penyebaran virus Korona.

Kementerian Kesehatan memang memiliki peran penting dalam menangani pandemi yang sedang terjadi, tapi dibutuhkan juga kolaborasi antarinstansi serta ketegasan dan tanggung jawab presiden yang tidak main-main. Pemerintah perlu memblokir informasi-informasi yang salah dari berbagai media guna mengedukasi masyarakat agar lebih berhati-hati dalam membaca, memahami, hingga menyebarkan kembali informasi terkait COVID-19.

Pada Senin (09/03), Pihak kepolisian khususnya Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Jawa Timur berhasil menangkap seorang ibu rumah tangga asal Wonokusumo, Surabaya yang diduga telah menyebarkan kabar bohong terkait COVID-19. Melalui media sosial, Polda Jawa Timur berhasil mengetahui bahwa perempuan ini sebenarnya mengidap penyakit paru-paru biasa, tetapi unggahannya di media sosial sempat menebar ketakutan yang membuatnya diamankan sementara di RSUD dr. Soetomo, Surabaya. Semoga ini bisa menjadi pelajaran untuk semua pihak agar semakin cerdas dalam bersikap di era digital.

Menyaring Informasi Melalui Big Data

Berbicara tentang internet dan segala informasi yang beredar pasti akan berkaitan juga dengan big data. Pemerintah Tiongkok telah bekerja sama dengan beberapa pihak untuk memanfaatkan big data sebafgai salah satu “alat pertahanan diri” dari gempuran COVID-19. Misalnya, pemerintah bersama Alibaba membentuk kelompok riset untuk menggabungkan algoritma AI dengan data-data dari warga yang memanfaatkan aplikasi pembayaran Alipay. Saat diluncurkan, aplikasi ini menuai kontroversi karna mampu mendeteksi dan mengeksekusi orang-orang yang terkena COVID-19. Pihak riset Alibaba mengungkapkan bahwa aplikasi ini mampu mendeteksi pneumonia yang terinfeksi COVID-19 dalam 20 detik dengan tingkat akurasi hingga 96%.

Alipay menglasifikasikan data penggunanya berdasarkan diagnosa pribadi pengguna, riwayat perjalanan, hingga interaksi terakhir yang dilakukan bersama orang lain. Aplikasi akan otomatis membagi para pengguna ke dalam tiga warna, yakni merah, kuning dan hijau. Pengguna dengan kode QR berwarna merah tidak diperbolehkan memasuki ruang-ruang publik termasuk stasiun bawah tanah, restoran, hingga tempat perbelanjaan selama kurang lebih 14 hari dan dilarang melakukan kegiatan di luar rumah. Pengguna dengan kode QR kuning mendapatkan larangan yang sama, tapi hanya selama tujuh hari. Sementara itu, pengguna dengan kode QR hijau masih boleh beraktivitas seperti biasa.

covid-19_perbedaan odp_pdp_dan_suspect_virus_corona_kompas_com
Sumber: “INFOGRAFIK: Perbedaan ODP, PDP, dan Suspect Virus Corona”
Penulis : Akbar Bhayu Tamtomo
Editor : Sari Hardiyanto

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia pun telah membagi kelompok orang dengan kasus COVID-19 ke dalam kategori Orang dalam Pemantauan (ODP), Pasien dalam Pengawasan (PDP) dan Suspect. Melansir Kompas.com, Orang dalam Pemantauan (ODP) adalah mereka yang belum menunjukkan gejala sakit. Di kategori ini, mereka terdeteksi sempat berpergian ke negara episentrum COVID-19 atau sempat melakukan kontak dengan orang diduga positif COVID-19 sehingga harus dilakukan pemantauan. Selanjutnya, Pasien dalam Pengawasan (PDP) adalah orang yang sudah menunjukkan gejala terjangkit COVID-19, seperti demam, batuk, pilek, dan sesak napas sehingga harus diperlakukan dengan benar karena sudah menjadi pasien. Yang terakhir, Suspect adalah orang yang sudah menunjukkan gejala terjangkit COVID-19 yang diduga kuat sudah melakukan kontak dengan pasien positif COVID-19. Pasien ini akan diperiksa spesimennya menggunakan dua metode, yakni Polymerase Chain Reaction (PCR) dan Genome Sequencing.

Sebagai pengguna teknologi sebaiknya kita saling menjaga dengan tidak menyebarkan ketakutan dan perlu melaporkan orang-orang yang terbukti menyebarkan misinformasi. Literasi teknologi membuat kita dapat berpikir lebih positif dengan tetap menebarkan cinta dan kasih untuk saling menjaga orang-orang di dekat kita agar terhindar dari pandemi COVID-19.

Baca Juga: Sebelum WHO, Startup BlueDot Sudah Lebih Dulu Mendeteksi Penyebaran Virus Corona

Tentang Docotel

Docotel 4.0 meliputi tim yang berdedikasi, berpengalaman, dan ahli dalam menyediakan produk dan solusi yang bernilai tinggi di semua industri. Kami hadir dengan visi mengatasi permasalahan sehingga dapat menciptakan pengalaman terbaik bagi klien.

Lintang Budiyanti

Lintang Budiyanti

Add comment

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.

Most discussed