Docotel Official Blog
Personal Branding di YouTube, Ternyata Ada Channel yang Sengaja Tak Dimonetisasi Parasite - Docotel Official Blog

Bangun Personal Branding di YouTube, Ternyata Ada Channel yang Sengaja Tak Dimonetisasi

Sepertinya YouTuber telah menjadi profesi yang diidamkan generasi kekinian. Bahkan, penulis pernah mendapati sebuah lagu anak dengan lirik “Kami kids-kids zaman now. Cita-cita kami suatu hari punya channel YouTube sendiri.” Ya, memang banyak orang yang berjuang menancapkan tonggak eksistensinya di platform ini karena iming-iming popularitas dan pemasukan uang dari iklan. Anehnya, ternyata ada beberapa channel yang justru dengan sengaja tidak dimonetisasi meski subscriber-nya sudah banyak.

YouTube, Tren Menonton yang Lebih Asyik

Tidak habis-habisnya internet memberi peluang kepada masyarakat untuk mendapatkan kenyamanan. Sebenarnya ada banyak media online yang bisa dipilih, tapi YouTube menjadi platform yang digandrungi karena bukan hanya untuk mendapatkan hiburan, tapi juga bisa untuk belajar atau mendapatkan informasi dalam bentuk audio-visual. Nilai guna YouTube terus meningkat dan diprediksi oleh lembaga riset Statista akan mencapai angka 1,8 miliar pengguna di 2021 nanti.

Pesona YouTube juga nyaris melampaui televisi. Pengguna di Indonesia sering memanfaatkan YouTube untuk menonton konten yang tidak sempat mereka tonton secara langsung ketika disiarkan televisi. Kegiatan menonton acara televisi melalui YouTube juga memiliki nilai plus karena tidak diganggu iklan yang durasinya bisa cukup lama. Di YouTube durasi iklan-iklan yang mampir lebih singkat dan bisa dilewati (skip).

Warganet Indonesia yang tinggal di wiayah rural juga semakin banyak mengakses YouTube karena beberapa faktor, seperti:

  • infrastruktur penyedia internet dan koneksi yang lebih berkualitas,
  • harga sarana/paket mengakses internet semakin terjangkau, serta
  • konten yang semakin beragam dan relevan dengan minat masyarakat.
YouTube, Tempat Membangun Personal Branding hingga Meraup Uang

Bulan lalu tim penulis membahas bagaimana internet melejitkan nama dan penjualan brand lokal Compass di penjuru negeri. Nah, kali ini internet terbukti mampu membangun citra seseorang/personal. Melalui pemanfaatan YouTube secara positif, individu dapat dikenal baik bahkan popular.

Jika kita Googling tentang pemanfaatan YouTube sebagai media membangun personal branding, maka mesin akan menyajikan banyak data terkait hal ini. Jurnal ilmiah dari berbagai universitas pun turut menggambarkan bagaimana fenomena ini patut diteliti oleh para akademisi. Bahkan, beragam media massa mengulas hal ini sebagai informasi yang patut diketahui khalayak, misalnya memberi kiat mudah mengawali bisnis dengan membangun personal branding di media sosial.

Sudah menjadi keharusan bagi YouTuber/kreator untuk bisa menampilkan citra diri yang menarik secara visual dan audio. Para kreator perlu membuat konsep dan konten yang jelas output-nya agar channel-nya dipercaya hingga mampu meraup sebanyak mungkin subscriber. Kualitas personal branding akan menentukan nasib channel.

Ya, menilik jumlah subscriber merupakan indikator paling mudah untuk melihat apakah suatu channel memberikan konten-konten yang memenuhi kebutuhan masyarakat. Ranah konten yang dimaksud pun beragam, seperti kuliner, musik, teknologi, sosial-politik, juga yang hanya berupa diksusi atau obrolan ringan dengan sosok tertentu. Nantinya jumlah subscribers sekaligus penonton (view) ini akan menentukan besarnya uang yang bisa diraih YouTuber atau pemilik channel. Setidaknya harus ada  1.000 subscriber aktif selama setahun ke belakang dan 4.000 jam waktu tonton (watch time) total agar sebuah channel/kanal bisa menayangkan iklan sehingga ada uang yang diraup.

Dengan berbagai persayaratan yang ditetapkan YouTube, para kreator harus meraih impian dengan usaha yang lebih berat. Ada kreator di kanal kuliner yang bahkan sampai harus terus memakan sajian super pedas dalam porsi besar agar citra “penggila” makanan melekat di diri juga channel YouTube-nya. Lain lagi dengan strategi artis yang rela mengumbar kehidupan rumah tangganya agar memicu keingintahuan masyarakat untuk terus mengikuti video-video yang diunggah di channel-nya.

Lho.. Ada YouTuber Terkenal tapi Channel-nya Tak Menghasilkan Uang!

Sejak tadi kita berbicara soal channel YouTube yang dimiliki para kreator dengan personal branding bagus sehingga menghasilkan uang. Komersialisasi kanal (monetisasi) untuk membuka “lapak” bagi iklan atau adsense pada sosial media seperti YouTube merupakan hal yang sah untuk dicoba siapa saja asal sesuai prosedur. Monetisasi menyediakan ruang bagi pengiklan untuk menggunakan video buatan kreator sebagai tempat beriklan. Iklan yang dipasang pada channel YouTube ini akan dikenakan tarif dan menjadi penghasilan bagi pemilik video/channel tersebut.

Namun, meski berpotensi memberi keuntungan secara finansial, ada beberapa channel yang ternyata dengan sengaja tidak dimonetisasi padahal kreatornya popular dan memiliki ratusan ribu subscriber. Mari kita intip channel YouTube Soleh Solihun yang sudah memiliki 203 ribu subscriber. Penyiar radio, komika, dan mantan jurnalis ini punya sikap yang unik, ia tidak mau memonetisasi channel YouTube miliknya.

Soleh punya pengetahuan luas, apalagi soal musik, sehingga ia seperti tidak butuh sensasi agar kontennya dianggap menarik. Dengan penampilan dan perlengkapan “seadanya” konten The Solihun Interview mampu menggaet jutaan view. Karena tidak mementingkan pemasukan dari YouTube, maka Vincent “Club 80’s” yang terkenal nggak pernah mau dijadikan konten YouTube—bahkan oleh  Gofar Hilman—mau diwawancara Soleh. Menurut Vincent, Soleh hanya ingin mengobrol, ia tidak punya kepentingan apa pun karena mengejar uang dari kontennya.

Video wawancara dan pengakuan Vincent ini semakin melejitkan personal branding Soleh Solihun meski channel YouTube-nya tidak menghasilkan uang. Video wawancara dengan Vincent saja telah ditonton 3,5 juta kali. Situs Social Blade sempat mengestimasi penghasilan Soleh jika channel-nya dimonetisasi. Per bulan Soleh bisa menghasilkan Rp320 juta dan per tahun mencapai Rp3,8 miliar.

Mirip dengan Soleh Solihun, penulis juga menemukan channel yang konten-kontennya dilihat ratus ribu hingga jutaan kali tapi tidak dimonetisasi yaitu Alip_Ba_Ta. Channel milik Alief Gustakhiyat ini masuk kategori musik dengan konten yang berisi permainan gitar fingerstyle yang dilakukannya sendiri. Alip bukan figur publik, ia hanya supir truk yang kini menjadi operator forklift, bahkan ‘studio’ tempat ia merekam konten berada di rumah kontrakannya. Penampilannya di setiap video sangat sederhana tanpa alat rekam canggih, sangat apa adanya.

Skill bermain gitar Alip mengundang warga dunia mengapresiasinya. Penulis sempat membaca komentar-komentar masyarakat dari berbagai negara yang memuji Alip bahkan minta diajarkan bermain fingerstyle. Namun sayangnya, sekarang kolom komentar Alip_Bata_Ta ditutup. Alip seolah tak ingin hobi mengulik dan bermain musiknya diusik warganet.

Apa pun konten yang beredar, masyarakat hanya perlu memilah dan memilih channel mana yang tepat untuk dirinya, karena pergerakan internet begitu masif, cengkraman pengaruhnya pun sangat luas dan kuat. Begitu pun dengan para kreator. Apa pun konten yang diciptakan, bagaimana pun pilihan manajemen channel-nya, ada konsekuensi yang perlu dipertanggungjawabkan.

Baca Juga: IoT Bikin Sepatu Compass jadi Tuan di Negeri Sendiri

Tentang Docotel

Docotel 4.0 meliputi tim yang berdedikasi, berpengalaman, dan ahli dalam menyediakan produk dan solusi yang bernilai tinggi di semua industri. Kami hadir dengan visi mengatasi permasalahan sehingga dapat menciptakan pengalaman terbaik bagi klien.

teresa iswara

teresa iswara

Add comment

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.

Most discussed