Docotel Official Blog
docotel official blog - IoT dan 3D Printing Wujudkan Indonesia Jadi Kota Pintar

IoT dan 3D Printing, Wujudkan Cita-cita Indonesia Jadi Kota Pintar

Nun jauh di sebuah negeri bernama Wakanda (kalian yang pernah menonton film Black Panther garapan Marvel Cinematic Universe pasti bisa langsung membayangkan) perangkat teknologi modern yang lengkap untuk menunjang kehidupan masyarakat menjadi representasi masa depan ideal yang terus dikembangkan oleh manusia. Gagasan akan kota pintar ini telah ada sejak bertahun-tahun lalu dan masih menjadi cita-cita besar yang ingin dicapai melalui program Smart City and Environment.

Kini, solusi kota pintar tak lagi hanya ada dalam cerita fiksi sains belaka, karena negara-negara maju di dunia telah menerapkannya untuk meningkatkan produktivitas, pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Melansir kompas, Kepala Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Laksana Tri Handoko mengatakan, implementasi kota pintar bukan lagi menjadi sebuah pilihan, tetapi keharusan. Dengan lima elemen kota pintar yang terdiri dari smart people, smart living, smart environment, smart economy, dan smart governance, Indonesia sudah harus siap menerapkan konsep kota pintar ini untuk masyarakat yang lebih sejahtera.

Internet of Things (IoT) Sebagai Pilar Utama Kota Pintar
IoT dan 3D Printing, Wujudkan Cita-cita Indonesia Jadi Kota Pintar 1
Komik MRT Jakarta: Kawasan Berorientasi Transit
sumber: www.jakartamrt.co.id

Salah satu indikator kota pintar yang telah dicapai Indonesia adalah automasi transportasi publik terintegrasi bagi warga Jakarta. Kehadiran Mass Rapid Transportation (MRT) yang diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada 2019 membuka gerbang Indonesia menuju negara maju dengan transportasi publik yang dapat mempermudah akses masyarakat ke ruang-ruang publik, seperti pelayanan pemerintahan hingga kesehatan. MRT kini telah terhubung dengan moda transportasi Transjakarta dan Kereta Rel Listrik (KRL) sehingga dapat dengan mudah diakses melalui petunjuk yang tertera di aplikasi Google Maps. Hal ini merupakan implementasi Internet of Things (IoT) sebagai pilar utama kota pintar. Selain terbukti mampu mengurangi kemacetan, transportasi umum juga terbukti mengurangi polusi udara yang ditimbulkan akibat penggunaan kendaraan bermotor pribadi.

Data dari Financial Times mengungkapkan, di 2019 jaringan IoT telah terhubung dengan 14,2 miliar perangkat. Sementara itu, menurut hasil survei Gartner, perusahaan riset asal Amerika Serikat, di 2025 mendatang jaringan IoT akan berkembang hingga mencapai 41,6 miliar perangkat. Transportasi terintegrasi termasuk ke dalam implementasi IoT yang menerapkan sistem pembayaran nontunai (cashless) untuk transaksi yang lebih ramah lingkungan. Sistem pembayaran transportasi umum yang selama ini kita gunakan telah menggunakan kartu elektronik (e-card), kartu jelajah sekali jalan (one-way trip), atau kartu jelajah multi trip. Kini, sistem pembayaran menggunakan dompet elektronik yang dapat kita akses melalui aplikasi di smartphone juga telah diterapkan oleh KRL dan MRT Jakarta.

Selain transportasi terintegrasi yang tergolong smart environment dan smart economy, untuk menjadi sebuah kota pintar ada beberapa indikator penting lain yang harus dipenuhi, salah satunya smart government. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan Waseda University, Indonesia menempati posisi ke-33 di antara negara di dunia yang telah menerapkan e-Government. Contoh e-Government yang telah bekerja secara efektif adalah sistem Surabaya Smart Windows (SWS) yang telah diterapkan pemerintah Kota Surabaya. Pelayanan seperti Izin Mendirikan Bangunan (IMB), Surat Keterangan Lurah atau Camat, Surat Kuasa, hingga Surat Permohonan Nama Jalan sudah dapat dilakukan secara online melalui smartphone maupun komputer di situs www.surabaya.go.id. Selain pemerintah Kota Surabaya, pemerintah DKI Jakarta, Kota Bandung, dan Pandeglang juga telah menerapkan sistem e-Government untuk pelayanan masyarakat. Sistem ini memungkinkan pemerintah untuk membuat laporan secara transparan dengan akses yang dapat dibuka oleh seluruh lapisan masyarakat. Selain itu, hal ini juga dapat memangkas birokrasi untuk menghemat biaya dan waktu.

Pihak Kementerian Pekerjaan Umum dan Pekerjaan Rakyat (PUPR) juga turut menanggapi upaya pemerintah untuk mewujudkan kota pintar. Nantinya, konsep smart city akan digabungkan dengan konsep green city. Pemerintah akan bekerja bersama masyarakat untuk tidak hanya membuat sistem yang efisien, tetapi juga membangun ruang-ruang terbuka hijau yang dapat dijangkau oleh transportasi umum, untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan.

3D Printing untuk Menunjang Sistem Pembangunan yang Lebih Efektif

Teknologi 3D printing ternyata juga dapat digunakan untuk mengembangkan atau membangun gedung-gedung yang menunjang kota pintar beserta pertumbuhan perekonomiannya. Untuk membangun suatu kota pintar, sektor bisnis menjadi elemen penting yang perlu dikembangkan. 3D printing dapat menampilkan rancangan, menyesuaikan bentuk, hingga merealisasikan bentuk tersebut menjadi sebuah bangunan yang utuh. Memanfaatkan teknologi computer vision untuk mendeteksi objek yang akan digunakan, 3D printing akan meniru hingga memodifikasi bentuk-bentuk yang telah dilihat kemudian menampilkannya dalam bentuk tiga dimensi.

Jika selama ini untuk mendesain suatu bangunan kita hanya mencetaknya pada kertas, maka dengan bentuk tiga dimensi kita bisa mendapatkan gambaran secara riil, lengkap dengan kerangka berupa konstruksi yang memungkinkan kita untuk menghitung dan memperkirakan ukuran bangunan. Melansir Kumparan, kemampuan 3D teknologi Printing tersebut bahkan diperkirakan dapat menumbangkan industri manufaktur di masa depan, karena 3D Printing memungkinkan desainer atau arsitek langsung membuat prototype atau tiruan dari produk yang akan dibuat. Prototype tersebut bisa didiskusikan secara langsung bersama klien ketika akan memasuki proses produksi sehingga perusahaan tidak perlu lagi membuat sampel yang terlalu banyak untuk menghemat waktu dan tenaga kerja.

Coronavirus fight: 3D-printed houses installed in hospital in Hubei
Sumber: Youtube New China TV

Di Indonesia, penerapan teknologi 3D printing ini masih terbatas. Oleh karena itu, dalam kurun waktu dua tahun ke depan, pemerintah akan menggencarkan pembangunan rumah dengan konsep modular. Rumah modular akan dibangun dengan proses prefabrikasi, yakni proses mengolah kembali sisa bahan-bahan bangunan yang sudah dibuat sebelumnya di pabrik. Pembangunan dengan proses prefabrikasi ini telah diterapkan oleh China ketika virus Corona menyerang negara tersebut. Pemerintah mendirikan Rumah Sakit yang ditargetkan selesai dalam waktu kurang dari satu bulan. RS yang diberi nama Huoshenshan ini juga menerapkan teknologi 3D printing dalam pengerjaannya. Proses kerja 3D printing ini akan meniru model yang telah digambarkan secara otomatis, memetakan lokasi yang telah dipilih berdasarkan penghitungan program, lalu membangun dalam waktu yang relatif singkat. Teknologi prefabrikasi yang digunakan juga membantu efisiensi biaya karena material yang digunakan ringan tetapi memiliki ketahanan yang cukup kuat karena didominasi logam dan bahan anti rayap seperti beton pracetak, gypsum, hingga papan partikel.

Teknologi 3D Printing juga diterapkan di bidang kesehatan. Melansir teknologi.id, dokter dan ahli gigi memanfaatkan 3D printing untuk membuat model (prototype) susunan gigi. Teknologi ini juga digunakan untuk mencetak kawat gigi, bahkan memberikan perawatan khusus bagi pasien yang mengontrol kesehatan giginya secara berkala. Jika sebelum menggunakan 3D printing dokter harus membuat modifikasi penyesuaian kawat gigi, maka hal itu tidak diperlukan lagi karena dokter dapat secara langsung mencetak kawat gigi yang pas untuk pasien dengan mudah. Cara kerja 3D printing ini cukup mudah, pertama, dokter akan memindai bentuk mulut dan gigi pasien, mengeditnya di komputer, dan mendapatkan model yang utuh untuk membuat bentuk implan yang tepat dan akurat.

Cita-cita untuk menerapkan kota pintar (smart city) ini memang masih membutuhkan waktu yang panjang. Indikator teknologi seperti IoT, 3D printing, bahkan Artificial Intelligence (AI) memang penting untuk mendukung pembangunan, tetapi ada faktor masyarakat (smart people) yang juga harus berperilaku lebih pintar dalam menyelesaikan pekerjaannya. Dengan adanya konsep kota pintar, masyarakat dan pemerintah dapat bekerja sama untuk menciptakan sebuah sistem yang efektif. Ketika pemerintah sudah mampu memberikan pelayanan dan edukasi tentang penggunaan teknologi, maka masyarakat sudah tentu akan memiliki kesadaran yang tinggi akan pentingnya bekerja secara aman, nyaman, dan efisien.

Baca Juga: Jangan Sampai Kebanjiran, Pantau Situasi dengan Aplikasi ini

Tentang Docotel

Docotel 4.0 meliputi tim yang berdedikasi, berpengalaman, dan ahli dalam menyediakan produk dan solusi yang bernilai tinggi di semua industri. Kami hadir dengan visi mengatasi permasalahan sehingga dapat menciptakan pengalaman terbaik bagi klien.

Lintang Budiyanti

Lintang Budiyanti

Add comment

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.

Most discussed