Docotel Official Blog
Tagar (#), Simbol Sederhana Berkekuatan Besar

Tagar (#), Simbol Sederhana Berkekuatan Besar

Negeri Paman Sam telah membangkitkan solidaritas dunia akibat kasus George Floyd, rapper yang tewas setelah mengalami kekerasan dari seorang aparat di Minneapolis. Secara masif warga Amerika turun ke jalan melakukan aksi protes. Gerakan ini menyedot perhatian masyarakat dunia terkait isu rasisme yang masih terjadi di Amerika. Internet menyumbang kekuatannya dalam menggalang dukungan, bahkan media sosial pun dipenuhi tagar #BlackLivesMatters. Dengan cepat tagar ini viral hingga membuat masyarakat di beberapa negara lain ikut turun ke jalan menuntut keadilan bagi George Floyd.

Pengaruh tagar yang begitu besar dapat kita telusuri dari sejarahnya yang juga menarik. Bagaimana tagar atau hashtag akhirnya digunakan sebagai salah satu katrol keberhasilan berkomunikasi di media sosial? Simak ulasannya dalam artikel berikut ini.

Histori tagar di media sosial

Mulanya, tanda pagar/tagar/hashtag (#) digunakan sebagai simbol atau satuan rumus untuk berbagai bidang kehidupan, seperti menaikkan not sebanyak setengah nada (abad ke-12), menjadi notasi dalam catur yang artinya #Checkmate (pertengahan abad ke-20), juga sistem operasi telepon Oktothorpe (1960) yang membuat kita harus menyertakan tagar di awal sebelum tiga digit nomor provider saat memeriksa saldo pulsa.

Pada 1988 simbol hash digunakan di Internet Relay Chat (IRC) untuk mengelompokkan pesan, konten, dan topik-topik sejenis agar memudahkan pengguna menemukan informasi yang mereka cari. Penggunaan simbol ini mencuat kembali pada 23 Agustus 2007 kala seorang pengguna Twitter bernama Chris Messina, yang juga seorang IT Product Designer terinspirasi dari IRC dan mencuitkan idepenggunaan tagar untuk pertama kalinya. Cuitan ini tidak begitu digubris dan fitur tagar tidak juga diluncurkan oleh Twitter hingga kebakaran hutan California yang terjadi pada Oktober 2007.

Informasi mengenai kebakaran itu dicuitkan oleh seorang warga yang juga menjadi korban, Nate Ritter. Messina kembali memperhatikan bahwa tagline SanDiegoFire saat itu populer digunakan oleh pengguna Flickr. Hal ini menginspirasi Messina untuk menjangkau Nate dan menyarankan penggunaan #SanDiegoFire di semua tweet yang relevan dengan kejadian tersebut. Cuitan Ritter lantas viral hingga membuat pengguna Twitter mulai menggunakan tagar.

Pada 2009, Twitter akhirnya meluncurkan fitur tagar dan membuatkan alat pencarian khusus bagi untuk mencari topik-topik yang relevan dengan tagar yang diinginkan. Para pengguna pun mulai sering membuat cuitan yang disertai tagar. Setahun kemudian (2010), fitur Trending Topics muncul untuk menampilkan tagar yang paling populer di Twitter.

Seiring dengan perkembangan Internet of Things (IoT), tagar menjadi alat penting bagi para pegiat media sosial untuk mengetahui pengaruh konten terhadap audiens. Bahkan kini, tagar mampu menentukan persaingan antarcalon presiden dalam pemilihan umum. Gerakan sosial di dunia nyata juga banyak dipengaruhi tagar yang sedang viral di media sosial.

Kesuksesan Twitter dengan tagar kemudian diadopsi platform media sosial lain. Tumblr merupakan media sosial pertama yang ikut mengadopsi tagar ini. Instagram yang meluncur pada 2010 telah menyematkan tagar pada fiturnya sejak hari pertama, kemudian disusul oleh Facebook pada 2013, hingga menjamur di platform lain seperti Google+ dan Pinterest.

Sejak hadir di media mainstream, utamanya Google, fungsi tagar yang awalnya hanya sebatas alat untuk mengelompokkan topik dengan konten yang sejenis pun berubah menjadi fitur yang sangat diperlukan untuk menggerakkan massa. Pada 2010, tagar digunakan untuk mengoordinasikan gelombang unjuk rasa Arab Spring. Lalu, tagar #MeToo digunakan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan kasus-kasus pelecehan seksual.

Saat pandemi COVID-19 menyerang dunia, tagar #stayathome atau #dirumahaja menjadi penggerak masyarakat untuk menerapkan physical/social distancing dengan berdiam diri di rumah sambil tetap terhubung satu sama lain dengan memanfaatkan internet. Perjuangan melawan rasisme yang diangkat melalui tagar #BlackLivesMatters pun akhirnya mampu meningkatkan kesadaran masyarakat dunia untuk menghargai perbedaan dan menjunjung tinggi keadilan.

Pentingnya tagar pada social media marketing

Hadirnya tagar sebagai penggerak massa di media sosial telah membuat para Marketeers melirik dan memanfaatkannya. Pengaruh tagar yang besar dalam menarik pengguna merupakan potensi bisnis untuk memperoleh engagement hingga mendapatkan keuntungan. Tagar berguna memberi label pada konten agar dapat dengan mudah ditemukan pengguna. Oleh karena itu, jika kita ingin menawarkan produk atau jasa, tagar dapat digunakan untuk menarik para calon pembeli.

Menggunakan tagar untuk menaikkan jumlah pengunjung di media sosial bukanlah hal mudah dan butuh strategi. Jika kita menggunakan tagar yang sudah sering digunakan oleh pengguna media sosial, kesempatan untuk konten ditemukan memang besar, tetapi risiko bersaing dengan sesama pengguna lain yang juga menawarkan produk atau jasa sejenis juga cukup besar. Karena produk atau jasa tersebut sudah cukup banyak, maka akan sulit untuk melakukan penjualan, kecuali apabila produk atau jasa yang kita tawarkan memiliki keunikan.

Di lingkup social media marketing, cara menyikapi tagar pada satu platform tentu berbeda dengan platform lainnya. Oleh karena itu, penting bagi para social media marketeers untuk jeli memperhatikan topik-topik apa yang sering dibahas di sebuah platform media sosial. Pengguna Twitter tentu memiliki perilaku yang berbeda dengan pengguna Instagram, begitu pula sebaliknya, sehingga penting untuk mempelajari dan mengelompokkan pengguna masing-masing platform dengan melihat tagar-tagar yang digunakan agar relevan dengan konten yang ingin disampaikan.

Riset juga penting dilakukan apabila kita ingin melihat perkembangan pengunjung melalui tagar yang digunakan. Jika ingin membuat tagar yang mudah diingat, buatlah dengan nada yang berima seperti #SundayFunday atau #TogetherForever. Hindari penggunaan tagar yang terlalu panjang dan rumit karena akan membuat pembaca malas melihatnya.

Selain itu, sebisa mungkin hindari menggunakan tagar dengan muatan negatif, politis, atau SARA untuk menghindari makna yang kontradiktif. Penggunaan tagar tentu dimaksudkan untuk menyatukan audiens, bukan malah memecah-belah. Penggunaan tagar akan membuka peluang besar bagi para pengguna media sosial yang ingin membuat kontennya diperhatikan. Oleh karena itu, penting mempelajari kapan dan bagaimana cara menggunakan tagar agar konten yang kita buat dapat memmengaruhi audiens dengan cara yang positif.

Baca Juga: Main Instagram Makin Seru dengan Tiga Fitur Terbaru Ini

Tentang Docotel

Docotel 4.0 meliputi tim yang berdedikasi, berpengalaman, dan ahli dalam menyediakan produk dan solusi yang bernilai tinggi di semua industri. Kami hadir dengan visi mengatasi permasalahan sehingga dapat menciptakan pengalaman terbaik bagi klien.

Lintang Budiyanti

Lintang Budiyanti

Add comment

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.

Most discussed