Docotel Official Blog
docotel official blog - Ellie dan PARO, Robot AI yang Bantu Pulihkan Gangguan Mental

Ellie dan PARO, Robot AI yang Bantu Pulihkan Gangguan Mental

Menjadi seorang pekerja di kota besar dengan jadwal padat terkadang bisa mengganggu kehidupan sosial karena tidak ada waktu untuk merilis kepenatan. Kondisi ini sering memicu stres dan gangguan kesehatan mental/kejiwaan lainnya. Zipjet, perusahaan jasa penatu (pencucian dan penyeterikaan pakaian) yang berbasis di Paris, Berlin, dan London melakukan penelitian tentang kota-kota paling stres di dunia. Hasilnya, Jakarta menduduki peringkat ke-18 dari 150 kota dengan skor mencapai 7,84. Penelitian tersebut menunjukkan, kegelisahan dan stres merupakan faktor utama penyebab menurunnya kesehatan mental dan kualitas hidup.

Isu kesehatan mental memang belum menjadi fokus perhatian dunia. Pasien dengan penyakit jiwa masih sulit melakukan konsultasi karena takut dengan stigma ‘gila’ yang mudah berembus di masyarakat. Padahal gangguan kesehatan mental belum tentu merupakan penyakit yang disebut gila. Melihat fenomena ini, teknologi berbasis Artificial Intelligence (AI) terus dikembangkan untuk membantu masyarakat mengonsultasikan kesehatan mental mereka secara virtual. Di masa depan, AI diperkirakan akan mengubah cara pandang di dunia kesehatan, salah satunya untuk yang berkaitan dengan psikoterapi.

Ellie Bantu Korban Perang

The University of Southern California’s Institute for Creative Technologies merancang robot yang dapat melakukan terapi secara virtual bernama Ellie. Robot ini akan membantu para veteran yang memiliki trauma terkait perang dan penderita Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD). Menariknya, Ellie dapat menangkap isyarat-isyarat nonverbal seperti gerakan wajah dan bahasa tubuh tanpa perlu berbicara.

Property of The USC Institute for Creative Technologies

Ellie merupakan hasil dari sebuah proyek bernama SimSensei. Dirancang untuk memonitor ekspresi mikro, Ellie mampu menanggapi isyarat wajah dengan rasa simpati untuk membangun hubungan dengan penderita PTSD. Dengan bantuan webcam, Ellie bahkan bisa diakses dari jarak jauh tanpa mengurangi kemampuan terapi terbaiknya. Berupaya manusiawi, di awal sesi Ellie memperkenalkan dirinya bukan sebagai seorang terapis, melainkan ia akan berkata, “Aku adalah seseorang yang senang mendengarkan dan mempelajari sedikit tentang dirimu.”

Dari hasil tes uji tentara Amerika yang harus mengisi penilaian kesehatan, sebagian besar memilih melaporkan gejala gangguan PTSD kepada Ellie daripada saat mengisi formulir secara anonim. Trauma pasca perang memang bukan hal yang mudah untuk diceritakan kepada orang lain, bahkan kepada anggota keluarga sendiri. Oleh karena itu, sangat nyaman saat bisa berbicara kepada sebuah layar yang bisa mendengarkan dan merespons.

Albert Rizzo, salah satu project leader dari SimSensei menjelaskan, Ellie bisa menjadi platform yang tepat untuk mendiagnosa pasien secara virtual. “Dari beberapa tes yang telah kami lakukan pada korban trauma perang, kami menyimpulkan mereka merasa lebih nyaman berbicara dengan perangkat lunak tanpa intervensi manusia di dalam ruangan. Mereka merasa dihargai dan tidak dihakimi, seperti berbicara kepada diri sendiri, lalu mereka menangis dan merasa lega karena telah mendapatkan jawaban atas apa yang dirasakannya ketika keluar dari ruangan,” ungkap Albert saat diwawancarai oleh Vice.

Ketika diluncurkan, Ellie telah mengetes sebanyak 700 subjek yang sebagian besar merupakan korban trauma perang. Rizzo berharap platform ini akan terus berkembang dan segera diluncurkan secara luas untuk membantu para terapis dan para pelaku yang bergerak di bidang kesehatan jiwa agar dapat memberikan pelayanan dari jarak jauh. SimSensei juga diharapkan dapat memberi pertolongan bagi penderita penyakit jiwa yang berjuang dalam kesunyian karena stigma atau minimnya akses karena kurangnya fasilitas dan biaya. “Ellie tidak akan mampu menyelesaikan masalah semua orang, tetapi mungkin ia bisa setidaknya memulai percakapan dan menyadarkan manusia tentang pentingnya isu kesehatan mental agar dapat membantu pekerjaan para terapis di masa depan nanti,” pungkas Albert Rizzo.

PARO Si Anjing Laut Lucu Pelipur Pasien Demensia

Di Jepang, robot berbentuk boneka anjing laut bernama PARO, yang merupakan singkatan dari personal robot dirancang untuk membantu penderita demensia (penurunan daya ingat dan cara berpikir). PARO dirancang untuk memberikan respon yang berbeda, tergantung perilaku yang diberikan kepadanya. PARO memiliki lima jenis sensor, yakni cahaya, suara, suhu, sentuhan, dan sensor postur. PARO akan mengingat tindakan seseorang kepadanya, misal kita mengelusnya, PARO akan mengingat tindakan tersebut dan memberi respons yang sama dengan mengelus balik kepada kita.

Ellie dan PARO, Robot AI yang Bantu Pulihkan Gangguan Mental
credits: parorobots.com

PARO pertama kali dirancang pada 2001, kemudian diluncurkan pada 2003 untuk melakukan tes pada beberapa pasien demensia. Paro Robots dibanderol dengan harga 6000 US dollar atau setara 85 juta rupiah. Meski menuai berbagai kontroversi hingga mendapatkan sindiran sebagai “robopet” seperti dalam film The Simpsons karena kemampuannya yang terbatas layaknya binatang peliharaan yang hanya bertugas untuk menemani sang pemilik, PARO terbukti dapat membantu para pasien demensia berusia lanjut karena dapat membuka kembali ingatan masa kecil mereka. PARO dapat mengeluarkan suara bernada tinggi untuk merespons sentuhan dengan menggerakkan kepal dan ekornya. Dengan teknologi Artificial Intelligence yang bersifat therapeutic, PARO dapat membantu mengurangi tingkat stres pasien.

Di masa pandemi COVID-19 ini, PARO juga kembali digunakan untuk membantu para pasien usia lanjut yang tengah dikarantina untuk mengurangi rasa kesepian. Kemampuannya untuk berinteraksi dengan lingkungan dapat memberikan rasa nyaman bagi pasien COVID-19. Melansir Wired, Sandra Petersen, seorang Program Director Departemen Kesehatan di University of Texas mengungkapkan, peran robot seperti PARO menjadi semakin penting di tengah pandemi global, terlebih ketika COVID-19 terbukti lebih banyak menyerang populasi manusia berusia lanjut, yang di antaranya mungkin juga menderita penyakit demensia. PARO Robots masih perlu terus dikembangkan untuk meningkatkan kemampuannya agar dapat bekerja dengan lebih baik.

Baca Juga: Menilik Kontribusi Big Data Bagi Dunia Kesehatan

Tentang Docotel

Docotel 4.0 meliputi tim yang berdedikasi, berpengalaman, dan ahli dalam menyediakan produk dan solusi yang bernilai tinggi di semua industri. Kami hadir dengan visi mengatasi permasalahan sehingga dapat menciptakan pengalaman terbaik bagi klien.

Lintang Budiyanti

Lintang Budiyanti

Add comment

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.

Most discussed