Docotel Official Blog
Sebelum WHO, Startup BlueDot Sudah Lebih Dulu Mendeteksi Penyebaran Virus Corona

Sebelum WHO, Startup BlueDot Sudah Lebih Dulu Mendeteksi Penyebaran Virus Corona

Suatu pagi ditemukan mayat mengambang di sungai Han, Korea Selatan. Tak lama, banyak korban tewas karena sakit. Masyarakat diserang kepanikan dan rasa cemas. Lalu, dengan bantuan alat-alat laboratorium dan kedokteran yang canggih diketahui adanya wabah penyakit yang disebabkan oleh cacing parasit yeongasi yang bermutasi. Itulah penggalan kisah dalam film Deranged besutan sutradara Park Jung Woo.

Namun, kali ini yang akan kita bicarakan bukan kisah dalam film, tapi peristiwa nyata yang statusnya telah ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebagai Darurat Kesehatan Masyarakat Internasional.  Ya, tentu saja ini tentang mewabahnya Virus 2019 Novel Coronavirus (2019-nCoV). Seperti di dalam film-film, virus ini benar-benar dengan cepat menyerang sistem pernapasan, mengakibatkan pneumonia akut, hingga kematian.

Penyebaran virus Corona ini diumumkan pertama kali oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 9 Januari 2020 berasal dari Wuhan, Tiongkok. Sebelumnya, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS juga telah melaporkan penyebaran virus ini pada 6 Januari 2020. Eits, tapi tahukah kamu? ada sebuah perusahaan yang menyatakan telah dapat mendeteksi penyebaran virus Corona lebih awal dari lembaga mana pun!

Memang ini bukanlah pekara balapan, tapi mengingat kita sekarang tengah berhadapan di masa serba canggih, maka tidak menutup kemungkinan apapun bisa dilakukan dengan cepat termasuk mendeteksi suatu penyakit. BlueDot, perusahaan rintisan asal Kanada mengklaim berhasil mengetahui dan memberikan peringatan soal virus Corona lebih cepat dibanding organisasi atau perusahaan lain. Melansir Wired, BlueDot menyampaikan pernyataan resmi tentang wabah ini kepada pelanggannya pada 31 Desember 2019. Kok, bisa, ya?

Didirikan pada 2014 oleh seorang mantan dokter, BlueDot telah mengembangkan suatu algoritma yang didasarkan pada Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan sehingga memungkinkan untuk memantau, menggambarkan, dan mengantisipasi risiko penyakit menular. Alat yang digunakan juga menerapkan big data dan machine learning, secara umum relatif mudah untuk dipahami.

Dari mana Sumber Data BlueDot?

BlueDot menangkap dan menganalisis data dari 65 bahasa, mencangkup pesan yang diunggah pada artikel di web, berita televisi, pencarian mengenai gejala-gejala penyakit di mesin pencari, dan buletin kesehatan mengenai patologi baru, hewan, atau sayuran. Namun, metode algoritma BlueDot tidak mengacu pada data unggahan di media sosial sebab data-data tersebut dianggap terlalu “berserakan”. Saat informasi sudah cukup terhimpun dan data telah disaring, tim ahli epidemiologi—yang mempelajari pola kesehatan dan penyakit serta faktor yang terkait di tingkat populasi—akan mengonfirmasi hasil temuan apakah masuk akal dari sudut padang ilmiah atau tidak. Jika sudah jelas, hasil temuan akan dikirim ke pemerintah, pelaku bisnis, dan pelanggan perusahaan.

Khusus pada kasus virus Corona, BlueDot menggunakan data tiket maskapai global untuk memprediksi ke negara mana saja dan kapan warga yang terinfeksi virus bepergian. Prediksi BlueDot terbukti, virus Corona telah menyebar ke Bangkok dan Tokyo beberapa hari setelah kemunculan awal. Namun, prakiraan BlueDot rupanya tergantung pada platform The Airline Tariff Publishing Company (ATPCO)—perusahaan yang mengumpulkan data maskapai—yang kadang menampilkan beberapa ketidakjelasan seputar sifat data yang disediakan.

Jika berbicara soal jam terbang, sebelumnya BlueDot berhasil memprediksi lokasi wabah Zika di Florida Selatan dalam sebuah publikasi di jurnal medis Inggris The Lancet. Terkait data penelitian yang didistribusikan, BlueDot mengatakan belum menjualnya kepada publik. Saat ini, hanya pejabat kesehatan masyarakat di beberapa negara seperti Amerika Serikat dan Kanada, maskapai penerbangan, dan rumah sakit yang dapat menerima hasil laporan BlueDot.

Peran AI dalam Mendeteksi Peyebaran Virus

Perlu dicatat! AI tidak akan menghentikan virus Corona atau menggantikan peran ahli epidemiologi. Tetapi sekarang untuk pertama kalinya dalam wabah global, AI menjadi alat yang berguna dalam upaya memantau dan menanggapi krisis. Dalam beberapa hari terakhir, banyak orang mengunggah informasi tentang virus Corona di berbagai media sosial dan situs berita. Hal ini memungkinkan algoritma menghasilkan data yang nyaris real-time bagi pelaku kesehatan untuk melacak penyebaran penyakit.

Menurut CEO BlueDot dr. Kamran Khan, penerapan AI sangat penting untuk memantau penyakit, karena jika hanya mengandalkan pemerintah akan memakan waktu cukup lama. Dokter Daniel Streicker, peneliti di Universitas Glasgow, juga menyatakan bahwa AI mungkin dapat membantu mengumpulkan data mengenai pergerakan manusia dari berbagai hal mulai dari catatan penerbangan,  informasi lalu lintas, bahkan membayangkan informasi yang dikumpulkan melalui Google.

Kekuatan AI yang dapat mengintegrasikan semua sumber data secara bersama-sama telah membuat bidang epidemiologi melangkah lebih cepat dalam melakukan pengawasan, prediksi, dan pengendalian wabah penyakit parah atau virus. Melalui data yang begitu besar, AI pun dapat dilatih lebih baik.

Apakah di masa depan AI mampu menemukan cara penyembuhan sebuah virus juga? Mari kita tunggu perkembangannya dengan pantau terus Blog Docotel, ya!

Tentang Docotel

Docotel 4.0 meliputi tim yang berdedikasi, berpengalaman, dan ahli dalam menyediakan produk dan solusi yang bernilai tinggi di semua industri. Kami hadir dengan visi mengatasi permasalahan sehingga dapat menciptakan pengalaman terbaik bagi klien.

Lukman M. Ardiansyah

Lukman M. Ardiansyah

Add comment

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.

Most discussed