Docotel Official Blog
docotel official blog - diari karantina bersahabat dengan teknologi di tengah pandemi cover

Diari Karantina: Bersahabat dengan Teknologi di Tengah Pandemi

Bill Gates Si Miliuner dan bos Microsoft menjadi ilmuwan teknologi yang cukup sering dibicarakan di tengah pandemi COVID-19 saat ini. Materi yang disampaikannya di TED Talks pada 2015 diulik kembali dan dijadikan bahan refleksi atas kelalaian dunia yang dianggap tidak fokus berinvestasi di bidang teknologi kesehatan. Melalui berbagai pernyataan yang diungkapkan Bill Gates saat itu, jelas kita diajak untuk mengandalkan teknologi.

Ya, benar, hidup harus terus berjalan dan kita tidak bisa selamanya berduka atau meratapi keadaan yang terjadi. Oleh karena itu, teknologi diharapkan bisa menjadi salah satu sumber yang solutif untuk tetap produktif dan ‘waras’ ketika mengarantina diri. Mungkin awalnya, para pekerja yang harus menjalani work from home (WFH) menikmati privilese waktu di pagi hari dengan lebih tenang tanpa harus terburu-buru mengejar transportasi umum, tidak kelelahan karena jarak puluhan kilometer yang harus ditempuh untuk sampai kantor, juga tidak perlu menghadapi kemacetan. Kemewahan-kemewahan ini terasa menyenangkan, tapi di pertengahan pemberlakuan WFH banyak yang mengaku jenuh hingga melakukan hal-hal tak biasa yang mungkin tidak pernah mereka pikirkan sebelumnya.

Kali ini penulis merangkum beberapa kisah tentang diari karantina (quarantine diaries) dari beberapa negara. Ini tentang bagaimana masyarakat dunia bertahan hidup di tengah Pandemi COVID-19 dengan memanfaatkan teknologi yang ada.

Serunya Bangun Pulau di Gim Animal Crossing Besutan Nintendo

Bersahabat dengan Teknologi di Tengah Pandemi - Animal Crossing Nintendo
Animal Crossing: New Horizons
Nintendo

Almie Palmer, Jurnalis CNBC asal Brooklyn, New York menceritakan pengalaman quarantine diaries melalui gim Animal Crossing. “Nintendo merilis gim ini di waktu yang tepat. Animal Crossing menurutku adalah permainan yang sehat dan menenangkan. Setelah melalui hari-hari yang panjang bergelut dengan berita-berita mengenai COVID-19, aku butuh pelarian di tengah dunia yang setiap hari terasa terbakar. Kita bisa memancing, berbelanja, berkunjung ke pulau tetangga dan mengatur kehidupan sosial versi virtual dengan kawan kita. Semua itu terasa menyenangkan sampai tiba waktunya kita dikejar oleh tarantula,” kisah Almie.

Gim Animal Crossing: New Horizons yang baru saja dirilis pada akhir 20 Maret 2020 lalu mendapat perhatian khusus dari para pecinta video games Nintendo Switch. Permainan ini berhasil terjual sebanyak lebih dari 1,88 juta kopi dalam waktu tiga hari sejak peluncurannya. Gim ini berhasil mengalahkan pesaing utamanya, Super Smash Bros. Ultimate dalam kurun waktu yang sama.

Permainan ini berhasil menarik hati para pecinta Nintendo dengan tampilan visual yang apik, juga karakter yang menggemaskan. Animal Crossing menawarkan teknik permainan petting, di mana kegiatan-kegiatan domestik di rumah menjadi poin utama yang harus diraih untuk menjadi pemenang. Kegiatan-kegiatan itu antara lain membangun rumah, memancing, menggali dan menanam, menangkap serangga, hingga berinteraksi dengan tetangga sekitar. Sekilas, mirip seperti Harvest Moon, ya?

Berbeda dengan Harvest Moon, pengguna Animal Crossing bisa menata pulau yang ditinggalinya dengan kegiatan mencari fosil. Sembari menunggu pandemi berakhir, sesekali kita bisa mengambil peran menjadi arkeolog di gim ini. Keunikan yang dimiliki permainan ini yakni zona waktu yang selaras dengan dunia nyata. Ketika bermain pada pukul 10 pagi, maka waktu dalam gim juga akan menunjukkan yang sama.

Meski berbayar, masyarakat dunia cukup antusias untuk membeli gim ini, bahkan sebuah perusahaan di Jepang melakukan rapat secara online lewat gim ini. Nah, bagi kamu para pecinta gim, Animal Crossing bisa menjadi salah satu alternatif untuk menghabiskan waktu di tengah pandemi COVID-19 ini.

Diari Virtual Para Seniman

Diari Karantina: Bersahabat dengan Teknologi di Tengah Pandemi 1
“Just Because There’s No School Doesn’t Mean There’s No Homework.” (Deb Monti)

The New York Times merilis artikel “The Quarantine Diaries” yang menceritakan sejarah lukisan sebagai refleksi atas pengalaman para seniman yang menghasilkan karya-karya hebat di tengah pandemi. Sebagian besar diari berupa lukisan tersebut dilukis kembali menggunakan teknologi visual dan disebarkan melalui internet.

Di dalam artikel dijelaskan tentang satu lukisan karya Margaux Rebourcet, seorang pelukis yang hidup di Nanterre, Perancis. Ia menghasilkan sebuah karya yang menggambarkan betapa terisolasinya seluruh manusia di dunia. A Solace ditampilkannya sembari mengaku, “Kita semua terisolasi sekarang.” Lukisan ini hanya salah satu di antara lukisan lain yang ditampilkan oleh seniman-seniman di seluruh dunia.

Gambar-gambar yang ditampilkan tak jauh dari pemandangan di sekitar rumah yang baru mereka sadari tak kalah indahnya dengan pemandangan pada lukisan-lukisan yang selama ini mereka buat. Suasana dapur, rumah-rumah dari balik jendela, dinding kamar yang penuh pertanyaan akan masa depan, dan lukisan-lukisan lain yang tiba-tiba menjadi penting untuk disebarkan melalui media sosial.

Ruth Manning, seorang seniman asal Spanyol juga membuat sketsa Miraflores de la Sierra, sebuah kota kecil di Madrid Utara yang ditinggali oleh putrinya selama 15 tahun. Setelah karantina diberlakukan di Spanyol, Ruth beralih menggambar tempat cuci piring yang lengkap dengan sabun dan peralatan-peralatan dapur.

Seorang arsitek asal Romania, Adina-Mihaela Tudor juga melukis pemandangan luar rumah dari balik jendela kamarnya. Ia memberi keterangan bahwa perjalanan dan pertarungan melawan virus ini sudah bukan lagi ke luar, tetapi ke dalam. “It is not a journey outside anymore, but a journey inside,” ungkapnya.

Dunia seni berkembang seiring dengan kemajuan teknologi pun semakin digemari di masa pandemi COVID-19. Para ilustrator, tukang gambar visual, dan seniman-seniman lain berusaha untuk membuka platform di media sosial yang bisa memfasilitasi rekan-rekan sejawat untuk bergabung mengompilasi hasil gambarnya. Seorang animator dan ilustrator andal asal Indonesia yang kini tinggal di New York, Pinot, mengumpulkan thread di Twitter yang mencuitkan dorongan kepada para seniman agar menyetorkan karyanya dalam bentuk visual. Hal itu mendapatkan tanggapan luar biasa dari para pengguna Twitter, banyak bakat terpendam yang bisa diasah oleh para seniman Indonesia dengan terus berkarya.

Menjamurnya Konser Musik Melalui Medsos

Pandemi COVID-19 turut membuat para event organizer merugi karena konser-konser musik yang terpaksa dibatalkan akibat adanya aturan physical distancing. Tak mau kehilangan cara, para musisi bekerja sama dengan media juga event organizer membuat konser musik digital yang semakin sering kita temui di platform digital.

Beberapa musisi internasional juga harus membatalkan konser yang rencananya diadakan di Indonesia, seperti Green Day, Dream Theater dan Slipknot. Namun, beberapa grup musik lain tidak kehilangan semangat untuk terus menyajikan hiburan di tengah pandemi yang semakin meresahkan ini. Boyband asal Korea, misalnya SuperM dan NCT Dream yang bekerja sama dengan Naver menggelar konser virtual sejumlah artis yang berdiri di bawah naungan produksinya. SuperM melangsungkan konser bertajuk Beyond Live ini pada Minggu, 26 April 2020 pukul tiga sore waktu Korea Selatan yang disiarkan melalui V Live.

Selain SuperM, NCT Dreams juga tampil pada 10 Mei, sedangkan NCT 127 pada 17 Mei. Penonton yang dapat menyaksikan konser ini harus merogoh kocek sebesar USD30 atau setara R 469 ribu. Dengan tarif ini, penonton bisa menyaksikan konser secara live melalui dua perangkat sekaligus dan mendapat fasilitas akses tanpa batas video on demand (VOD) yang dapat diunduh melalui Android dan iOS. Akses ini dapat digunakan di lima perangkat sekaligus dengan fasilitas teks dan streaming dengan resolusi 1080p.

Konser musik duka yang ditujukan untuk mendiang musisi kenamaan Glenn Fredly juga telah banyak dilakukan oleh para musisi Indonesia. Kepergiannya yang cukup mengejutkan jagad musik Nusantara pada 8 April 2020 lalu meninggalkan duka bagi rekan-rekan dan penggemarnya. Glenn Fredly, selain terkenal dengan lagu-lagu yang seringkali mengisi telinga kita dengan kata-kata cinta, juga terkenal dengan aktivismenya. Beberapa saat sebelum kepergiannya, Glenn sempat mengadakan donasi untuk membantu menangani COVID-19 yang kemudian dilanjutkan oleh rekan-rekan sesama musisi melalui live concert di platform digital seperti Instagram dan YouTube.

Di tengah pandemi yang belum pasti kapan berakhirnya ini, sudah selayaknya kita bersahabat dengan teknologi untuk mengisi waktu dengan bijak selama menjalankan physical distancing. Selain sebagai media hiburan, teknologi juga bisa menjadi alternatif bagi kita untuk semakin produktif jika dimanfaatkan dengan baik.

konser musik #dirumahaja
Catatan Najwa

Baca Juga: Memanfaatkan IoT dan Big Data dengan Benar Bisa Putus Rantai Pandemi COVID-19

Tentang Docotel

Docotel 4.0 meliputi tim yang berdedikasi, berpengalaman, dan ahli dalam menyediakan produk dan solusi yang bernilai tinggi di semua industri. Kami hadir dengan visi mengatasi permasalahan sehingga dapat menciptakan pengalaman terbaik bagi klien.

Lintang Budiyanti

Lintang Budiyanti

Add comment

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.

Most discussed