Docotel Official Blog
Teknologi Hologram 3D

Tak Mau Mengeksploitasi Hewan, Atraksi Sirkus di Jerman Gunakan Teknologi Hologram 3D

Membayangkan pertunjukan sirkus, tentu benak kita dipenuhi tingkah unik para hewan, ya? Hiburan yang mempertontonkan tingkah hewan-hewan terlatih ini memang kerap menarik perhatian masyarakat, khususnya anak-anak. Berbagai bakat dari hewan-hewan pilihan dipamerkan menurut arahan para pelatih.

Keberadaan sirkus bisa ditelusuri mulai dari zaman Romawi Kuno. Saat itu, pertarungan gladiator, balapan kereta, pembantaian hewan, pertempuran tiruan, dan pertunjukan olahraga lainnya sangat lazim diselenggarakan. Hal ini menjadi titik tradisi parade dan hewan terlatih dipertunjukan bermula.

Seiring perubahan masa, meski pertunjukan sirkus menampilkan tingkah menggemaskan hewan-hewan berbakat, seperti lumba-lumba, kuda, gajah, jerapah, dan tak ketinggalan sang raja rimba singa, tapi beredar banyak kisah pilu di belakang penampilan mereka. Masyarakat pun mulai mempertanyakan tanggung jawab penyelenggara sirkus terhadap kelayakan hidup hewan-hewan tersebut. Keberadaan sirkus menjadi polemik karena dianggap mengubah habitat juga perilaku hewan menjadi tidak alami sekadar untuk bisa menjadi alat bisnis.

Masyarakat pun mulai mempertanyakan tanggung jawab penyelenggara sirkus terhadap kelayakan hidup hewan-hewan tersebut. Keberadaan sirkus menjadi polemik karena dianggap mengubah habitat juga perilaku hewan menjadi tidak alami sekadar untuk bisa menjadi alat bisnis.

Pada 2013 beberapa wilayah di Indonesia telah menyosialisasikan Surat Edaran yang diterbitkan Dirjen Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam dan ditembuskan kepada Menteri Kehutanan yang dijadikan alat untuk melakukan pengawasan terkait teknis dan administrasi peragaan satwa. Di tingkat internasional, banyak negara telah melarang adanya pentas sirkus dengan atraksi hewan. Hal itu tertuang dalam Universal Declaration on Animal Welfare (UDAW) yang melarang pemanfaatan satwa untuk melakukan atraksi-atraksi sirkus.

Pro-kontra yang mewarnai eksistensi sirkus menuntut adanya solusi agar pertunjukan satwa tidak menjadi kegiatan eksploitasi, tapi justru menjadi sarana edukasi mengenai satwa. Kini, perlahan keresahan para pecinta satwa dan lingkungan mulai terobati. Era teknologi rekayasa optik telah membawa pencerahan bagi dunia sirkus. Salah satu penyelenggara sirkus di Jerman, Roncalli menggunakan hologram 3D untuk menghadirkan hewan dalam pertunjukannya.

Teknologi Hologram 3D
Sumber: www.bbc.co.uk

Melansir BBC, gagasan kreatif untuk menggunakan teknologi hologram 3D muncul dari pendiri sirkus Roncalli, Bernhard Paul saat sedang menonton pertandingan NFL Super Bowl pada pertengahan 2018. Ketika acara berlangsung, tampak Justin Timberlake bernyanyi bersama hologram dari salah seorang legenda musik Prince, yang telah meninggal dua tahun sebelumnya. Sontak Paul pun bertekad untuk menemukan cara membuat pertunjukan sirkusnya dengan menggunakan teknologi hologram 3D.

Sejak 1976 sirkus Roncalli memang telah menghibur banyak orang dengan pertunjukan satwanya. Namun, di 2017 perusahaan tersebut telah memutuskan mengubah konsep pertunjukan dengan mulai mengurangi penggunaan hewan pada acara sirkusnya. Pada 2019 ini, sirkus Roncalli melakukan terobosan dengan menggunakan 11 proyektor laser ZU850 untuk membuat hologram 3D dan proyeksi lainnya dalam pertunjukan mereka.

Teknologi Hologram 3D
Sumber: www.bbc.co.uk

Laser ZU850 dikembangkan oleh perusahaan teknologi Optoma. Dalam website resminya dijelaskan bahwa proyektor tersebut menggabungkan warna superior/terbaik dari Multi Color Laser dengan sumber cahaya dari Dura Core Laser yang mempertahankan konsistensi kecerahan yang luar biasa.

Roncalli juga bekerja bersama Bluebox untuk memasang sistem tampilan holografik yang dibangun oleh Optoma. Dalam menjalankan proyek sirkus hologram pertama sepanjang sejarah tersebut membutuhkan 15 kru yang berlatar belakang desainer dan insinyur perangkat lunak (software).

Hewan-hewan yang ditampilkan sirkus hologram ini terlihat layaknya hewan asli, lengkap dengan peralatan seperti lingkaran berapi juga akrobat. Para hewan ditampilkan dalam rupa hologram beresolusi tinggi. Gambar holografik 3D dari proyektor tersebut mengisi arena sirkus berukuran 32 meter (105 kaki) dan 5 meter (16 kaki) dengan kemampuan visual 360 ° untuk seluruh penonton.

Teknologi Hologram 3D
Sumber: www.bbc.co.uk

Meskipun bukan hewan asli, tetapi sirkus hologram dapat memanjakan mata dan menghibur penonton dengan gambar 3D yang luar biasa. Langkah berani Roncalli ini diharapkan mampu memiliki dampak positif dalam upaya mengurangi dan menghindari eksploitasi hewan dalam industri sirkus. Kiranya Roncalli dapat meredam kekhawatiran dunia atas keselamatan hewan-hewan pertunjukan yang sebagian besar hidupnya dikurung di penangkaran yang mengerikan.

Langkah Bernhard Paul bersama tim Roncallinya sungguh menginspirasi. Apakah para pecinta hewan Indonesia mampu menghadirkan inovasi serupa? Tentu saja, bahkan mungkin kamu yang telah membaca artikel ini lah perintis sepak terjang antieksploitasi satwa ini!

Lukman M. Ardiansyah

Lukman M. Ardiansyah

teresa iswara

teresa iswara

Add comment

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.

Most discussed