Docotel Official Blog
Melaju di Trek Industri 4.0 dengan Konektivitas 5G

Melaju di Trek Industri 4.0 dengan Konektivitas 5G

Kita berada di era revolusi industri 4.0 — masa ketika berbagai peralatan telah terhubung internet dan automasi guna mempermudah aktivitas sehari-hari. Ya, misalnya saja Internet of Things (IoT) yang telah merajai keseharian masyarakat.  Tidak sebatas itu, saat ini manusia pun dibantu oleh kecerdasan buatan atau AI (Artificial Intelligence) yang mampu menafsirkan situasi (data eksternal) dan mentransformasikannya menjadi bentuk data yang kita inginkan (teks/audio/visual).

Implementasi revolusi industri 4.0 perlu didukung jaringan 5G agar bandwith komunikasi semakin besar sehingga memungkinkan penggunaan berbagai inovasi dan aplikasi yang lebih luas lagi. Tentu jaringan 5G memiliki perbedaan dengan 4G yang sampai saat ini masih mendominasi Indonesia. 5G adalah teknologi generasi kelima dengan kecanggihan mutakhir jika dibandingkan dengan teknologi 4G.

Konektivitas 5G menjanjikan kecepatan pengunduhan dan pengunggahan data yang lebih cepat, jangkauan yang lebih luas, dan koneksi yang lebih stabil. Jaringan 4G saat ini menawarkan kecepatan rata-rata sekitar 45 Mbps dan masih perlu pengembangan untuk bisa mencapai 1 Gbps. Sedangkan 5G diperkirakan dapat mencapai kecepatan penelusuran dan unduhan 10 hingga 20 kali lebih cepat dari 4G. Beberapa perusahaan teknologi memperkirakan dengan 5G kita bisa mengunduh film setara dengan tiga kali penayangan televisi.

Jaringan 5G memanfaatkan spektrum radio dengan lebih baik dan memungkinkan lebih banyak perangkat untuk dapat mengakses internet seluler pada saat yang bersamaan.  5G juga semakin dibutuhkan seiring dengan perkembangan dunia yang lebih cepat. Manusia akan mengonsumsi lebih banyak data dibandingkan sebelumnya seiring dengan kebutuhan streaming akses video lancar tanpa buffering, panggilan video yang jelas tanpa perlu ada gangguan, serta kebutuhan berkomunikasi lainnya dengan dukungan kecepatan internet yang lebih baik.

Produk-produk era industri 4.0 dengan dukungan konektivitas 5G

Daniel Newman principal analyst Futurum Research dan CEO Broadsuite Media Group, seperti yang dikutip Huffington Post, dalam analisisnya mengungkapkan akan ada beberapa teknologi yang memengaruhi dunia seiring kemunculan 5G, antara lain sebagai berikut:

1. Mobil Otonom
Melaju di Trek Industri 4.0 dengan Konektivitas 5G
Mobil Otonom

Mobil otonom adalah mobil yang dapat bergerak secara mandiri tanpa perlu ada pengemudi atau sopir. Dengan konektivitas 5G, mobil otonom mungkin untuk dioperasikan lengkap dengan fasilitas yang lebih baik karena dapat memperkirakan waktu kedatangan, menghindari kecelakaan, dan secara otomatis mendeteksi kerusakan yang terjadi pada mobil ketika berkendara. Namun, penggunaan mobil otonom ini bergantung pada pemanfaatan konsep penggunaan IoT di wilayah mana mobil-mobil tersebut dapat dijalankan, karena tidak semua lokasi siap untuk menerima “keberadaan” mobil otonom.

2. Robot Pembedah yang Dikendalikan dari Jarak Jauh
Melaju di Trek Industri 4.0 dengan Konektivitas 5G
Robot Pembedah

Robot pembedah jarak jauh ini termasuk salah satu inovasi yang menggabungkan Internet of Things (IoT) dan Artificial Intelligence (AI). Dalam dunia kesehatan robot ini dapat digunakan sebagai alat bantu tenaga medis, khususnya pelaksanaan operasi. Dokter dapat melakukan operasi dari jarak jauh hanya dengan menggunakan layanan 5G sehingga dapat membantu pasien-pasien yang berada di daerah terpencil dan belum memiliki akses kesehatan yang memadai.

Dokter ahli bedah asal Tiongkok, Ling Zhipei, berhasil melakukan pembedahan jarak jauh pertama pada pasien yang memiliki penyakit Parkinson dengan jarak 3000 km. Ling Zhipei menanamkan neuro-stimulator atau alat pacu jantung dengan peralatan medis yang dioperasikan melalui gambar yang ditransmisikan melalui teknologi 5G.

Dikutip dari South China Morning Post, Ling Zhipei mengatakan, “Saya seperti tidak merasakan operasi jarak jauh, karena terasa sangat real time. Gejala-gejala pasien, termasuk tremor tungkai dan kekakuan otot secara signifikan berkurang setelah prosedur. Pasien pun merasa jauh lebih baik dari sebelumnya dan dinyatakan dalam kondisi stabil,” kisahnya.

3. Pabrik Pintar
Melaju di Trek Industri 4.0 dengan Konektivitas 5G
Pabrik Pintar

Kemunculan 5G akan membantu proses pengolahan dalam pabrik menjadi lebih cepat dan efisien, bahkan hingga 100 kali lebih cepat dibandingkan dengan teknologi konvensional biasa. Tak hanya mampu mempercepat proses produksi, dengan 5G akan ada inovasi-inovasi baru yang bisa dilakukan secara otomatis untuk variasi produk yang lebih beragam.

4. Aplikasi Gaming
Melaju di Trek Industri 4.0 dengan Konektivitas 5G
Aplikasi Gaming

Para penggemar game tentunya akan menjadi pihak yang paling diuntungkan dan bergembira dengan keberadaan 5G, karena permainan akan berjalan lebih cepat secara real time tanpa membutuhkan konsol (peralatan pendukung permainan) yang terlalu banyak dan super ribet. Selain itu, gangguan teknis seperti pemberhentian secara paksa (forced closed) atau lagging (permainan menjadi lambat) tidak akan terjadi lagi dengan bantuan 5G.

Keberadaan 5G di Indonesia

Melansir tempo.co, Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara mengungkapkan teknologi 5G di Indonesia belum bisa digunakan untuk kepentingan komersial. “Kemungkinan yang masuk lebih dulu itu industri, karena mereka melihat dari segi bisnis. Sedangkan untuk konsumen, misalnya 4G speed-nya 7 megabyte, nah kalau 5G bisa mencapai 100 atau 200 megabyte. Kalau 100 megabyte misalkan, tinggal dikali 15 kecepatannya. Masalahnya, konsumen mau nggak bayar 15 kali lipat?” ujarnya.

Sementara itu, dalam website Institut Teknologi Bandung (ITB), Ridwan Effendi selaku pengamat telekomunikasi dari ITB mengatakan, “Target (aturan) komersialisasi kemungkinan ditetapkan pada 2022 atau 2 tahun setelah standar IMT-2020 diterbitkan.” Menurutnya, meski realisasi 5G telah dilakukan pada 2018 oleh tiga operator besar di tanah air, tapi berdasarkan tren dan data historis, komersialisasi 5G di Indonesia akan membutuhkan waktu lebih lama. Hal itu diungkapkan berdasarkan hasil pengamatan dan pengalaman terhadap perkembangan 3G ke 4G, lalu 4G ke 5G. Standarisasi 3G yang dimulai pada akhir 1999 baru diimplementasikan pada akhir 2003, sedangkan generasi keempat atau 4G yang diperkenalkan sekitar 2008 akhir baru terealisasi pada akhir 2013, menjelang 2014.

Lintang Budiyanti

Lintang Budiyanti

teresa iswara

teresa iswara

Add comment

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.

Most discussed