Docotel Official Blog
Industri 4.0

Mengintip Alat-alat Kesehatan Era Industri 4.0

Revolusi Industri 4.0 turut membawa perubahan pada bidang kesehatan. Teknologi semakin berperan penting untuk para dokter dan praktisi kesehatan, demi terwujudnya kualitas kesehatan yang lebih baik untuk para pasien. Bukti teknologi semakin berkembang di dunia kesehatan misalnya kehadiran Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) dan alat-alat kesehatan berteknologi canggih.

Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) merupakan sarana penting, bahkan bisa dikatakan mutlak untuk mendukung pengelolaan operasional rumah sakit. Selain dapat mengurangi pemakaian kertas (paperless), sistem ini juga berguna dalam pengambilan keputusan bagi para direktur dan manajer rumah sakit sebab mampu menyediakan informasi yang cepat, akurat, serta terpercaya.

Mengintip Alat-alat Kesehatan Era Industri 4.0 1

Pengoperasian sistem manajemen mutakhir pun akan semakin baik ketika dilengkapi dengan alat-alat kesehatan yang canggih. Misalnya, alat kesehatan yang dipadu dengan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) sehingga mampu memberikan dampak yang lebih siginifikan. Melalui alat kesehatan yang baik performa para dokter maupun praktisi kesehatan akan meningkat. Teknologi Artificial Intelligence (AI) pada alat kesehatan mampu mendukung proses deteksi suatu virus atau penyakit baru secara signifikan, membantu masa penyembuhan pasien, juga mempermudah dokter dan apoteker dalam pembuatan obat.

Perkembangan industri alat kesehatan di Indonesia

Potensi pertumbuhan industri alat kesehatan di Tanah Air terus mengalami peningkatan. Melansir depkes.go.id, perkembangan industri alat kesehatan dalam negeri pada awal 2018 mengalami peningkatan sebesar 25.3%, yakni 27 industri. Hingga saat ini telah ada 242 industri dengan jenis alat kesehatan yang diproduksi sebanyak 294 jenis.

Sementara itu dalam warta marketeers.com, Gabungan Perusahaan Alat Kesehatan & Laboratorium Indonesia (Gakeslab) menyebut bahwa alat kesehatan di dalam negeri diprediksi menembus Rp 17 triliun pada 2018 dengan tingkat pertumbuhan tahunan sebesar 10%. Namun, yang menjadi tantangan saat ini adalah 92% produk alat kesehatan yang beredar di fasilitas kesehatan, baik swasta maupun milik pemerintah, merupakan produk impor.

Pemerintah Indonesia sebenarnya telah mendorong industri dalam negeri untuk memproduksi alat kesehatan. Melalui Instruksi Presiden Nomor 6 Tahun 2016 tentang Percepatan Pengembangan Industri Farmasi dan Alat Kesehatan, pemerintah berharap 25% dari produk alat kesehatan pada 2030 adalah merek dalam negeri. Ketua Umum Gakeslab Indonesia Sugihadi menyatakan, dari 411 anggota Gakeslab, baru sepuluh perusahaan yang memutuskan untuk berkecimpung di industri alat kesehatan dengan membuat pabrik. Alat-alat kesehatan yang telah diproduksi di dalam negeri antara lain kursi roda, tempat tidur pasien, stem cell jantung, mesin anastesi, jarum, dan benang bedah.

Menilik perkembangan berbagai perusahaan alat kesehatan beserta produk yang dihasilkannya, ternyata peralatan dengan teknologi era industri 4.0 seperti Artificial Intelligence (AI) memang memegang peran penting dalam menangani kesehatan masyarakat, hingga tidak jarang kita masih harus mengimpornya. Seperti apakah alat-alat kesehatan berteknologi tinggi yang sangat dibutuhkan dunia kesehatan tersebut? Mari simak beberapa produk berikut.

A. Magnetic Resonance Imaging (MRI)

Magnetic Resonance Imaging (MRI) atau pencitraan resonansi magnetik merupakan alat diagnostik mutakhir yang berfungsi mendeteksi dan melihat secara detail tubuh internal manusia dengan menggunakan medan magnet dan gelombang radio. Mengutip dari HelloSehat, mesin ini bekerja layaknya pemindai yang dapat melihat dan memeriksa organ tubuh manusia, seperti jantung, saraf, tulang belakang, payudara, dan otak.

Jurnal berjudul “Pemanfaatan Magnetic Resonance Imaging (MRI) sebagai Sarana Diagnosa Pasien” menyebutkan bahwa MRI awalnya dikenal dengan sebutan Nuclear Magnetic Resonance (NMR) yang dicetuskan oleh Felix Bloch dan Purcell pada 1946. Kemudian tahun 1984 NMR diubah atas usulan American College of Radiology dengan pernyataan adanya kekaburan istilah yang digunakan dan di bagian apa sebaiknya alat tersebut diletakkan pada dunia medis. Oleh karena itu, Nuclear Magnetic Resonance (NMR) berganti nama menjadi Magnetic Resonance Imaging (MRI) dan ditempatkan di bagian Radiologi.
Industri 4.0

Sumber: www.vanrad.com

Jurmal yang ditulis oleh Mulyono Notosiswoyo dan Susy Suswati tersebut, juga menjabarkan kelebihan MRI, diantaranya alat ini lebih unggul untuk mendeteksi beberapa kelainan pada jaringan lunak seperti otak, sumsum tulang, serta muskoloskeletal (otot, tulang sendi). Selain itu, mampu memberi gambaran detail anatomi dengan lebih jelas, melakukan pemeriksaan fungsional seperti pemeriksaan difusi, perfusi, dan spektroskopi, serta membuat gambaran potongan melintang, tegak, dan miring tanpa mengubah posisi pasien.

Hal senada diungkap dalam laman vanrad.com, bahwa MRI memiliki kelebihan dibanding mesin pemindai tubuh lain, seperti uji diagnostik yang aman dan tidak menyakitkan pasien karena menggunakan magnet yang kuat dan gelombang frekuensi radio untuk membuat gambar detail struktur di dalam tubuh. MRI juga tidak menggunakan radiasi ion (x-ray). MRI juga membantu untuk mendiagnosis berbagai penyakit lebih awal dan membuat planning treatment untuk suatu cidera dan penyakit.

B. Computed Tomography Scan (CT-Scan)

Sekilas secara penampakan Computed Tomography atau CT-Scan memang seperti MRI. Keduanya memiliki fungsi mirip sebagai alat pemindai tubuh. Namun, CT-Scan dan MRI memiliki target berbeda seperti yang dicatat health.detik.com, MRI digunakan untuk melihat sampai ke sel sedangkan CT-Scan hanya mengamati anatomi kasarnya. Dari segi teknologi, MRI menggunakan gelombang radiomagnetik sehingga tidak memancarkan radiasi, sedangkan CT-Scan menggunakan sinar X.

Industri 4.0
Sumber: www.radiologyinfo.org

Berdasarkan jurnal yang ditulis oleh Nitin P. Ghonge dengan tajuk “Computed Tomography in the 21st Century: Current Status & Future Prospects”, perkembangan pertama CT-Scanner dimulai pada 1967 oleh Godfrey Hounsfield, seorang insinyur di British EMI Corp. Pada September 1971, CT-Scan pertama dibangun dan dipasang di Rumah Sakit Atkinson-Morley, Inggris.

Penjelasan terkait CT-Scan pun terangkum dalam radiologyinfo.org, alat kesehatan berteknologi X-ray ini membantu ahli radiologi, dokter, juga para praktisi dalam mendeteksi berbagai penyakit dan kondisi pasien seperti kanker, penyakit kardiovaskular, penyakit menular, radang usus buntu, trauma, dan gangguan muskuloskeletal. CT-Scan memberikan data secara cepat, akurat, tidak invasif, dan tidak menyakitkan pada pasien. Dalam kasus darurat, CT-Scan dapat mengungkapkan cedera internal dan pendarahan yang dialami pasien dengan cukup cepat sehingga mampu menyelamatkan nyawa.

C. Picture Archiving and Communication System (PACS)

Berbeda dengan MRI dan CT-Scan, Picture Archiving and Communication System (PACS) berupa sistem rumah sakit yang menunjang keperluan radiologi, bukan berupa alat kesehatan atau mesin. PACS pertama diciptakan pada 1972 oleh Dr Richard J. Steckel. PACS memiliki kemampuan memberikan akses tepat waktu dan efisien dari segi interpretasi dan data terkait. Dr. Fermi Pasha, praktisi PACS dalam seminarnya yang bertemakan “Era Digitalisasi Radiologi dengan PACS” menceritakan bahwa era digitalisasi radiologi sebenarnya bukan hal baru, karena sudah ada di era 80-an tapi seiring perkembangan jaman diperlukan standarisasi hingga pada akhir 90-an dikenalkan lah PACS.

Industri 4.0
Sumber: www.chili-radiology.com

Bersumber pada searchhealthit.techtarget.com, dinyatakan bahwa PACS merupakan teknologi pencitraan medis yang digunakan, utamanya bagi instansi pelayanan kesehatan, untuk menyimpan dan mentransmisikan gambar elektronik secara digital dan laporan yang relevan secara klinis. Kepada inews.id, Dr. Vonny N. Tubagus, Sekretaris Umum Perhimpunan Dokter Spesialis Radiologi Indonesia (PDSRI) memaparkan bahwa PACS adalah suatu sistem (software-hardware) yang bisa menyimpan gambar (hasil CT-Scan) ke spesialis radiologi agar bisa dibaca sesuai aslinya. Terhadap pasien-pasien gawat darurat, PACS bisa diakses kapan saja, di mana pun dokter radiologi berada.

Dalam forum bertajuk “Digital Transformation in Radiology to Enhance Patient Care” Dr. Vonny menjelaskan kelebihan PACS, yaitu teknologi ini dapat menekan biaya dan waktu karena pasien tidak harus menunggu hasil radiologi yang dicetak menggunakan kertas film, karena akan langsung bisa diakses oleh dokter bersangkutan untuk segera ditindaklanjuti. Dokter juga dapat menyimpan data digital dari hasil radiologi sehingga tidak lagi ketergantungan dengan medical record. Tidak hanya itu, hal yang tidak kalah penting bahwa paparan eksposur radiologi akan lebih minimum bagi pasien.

D. Catherization Laboratory (Cath-Lab)

Hampir semua kematian mendadak dapat disebabkan oleh serangan jantung yang tidak disadari oleh pederitanya atau mungkin bisa saja terjadi pada seseorang yang sebelumnya tidak mengetahui bahwa dirinya mengidap sakit jantung. Maka untuk menekan kematian yang disebabkan sakit jantung, perlu dilakukan deteksi dini. Nah, salah satu pendeteksiannya dapat menggunakan Catherization Laboratorium (Cath-Lab).

Dalam buku “Pedoman Laboratorium Kateterisasi Jantung dan Pembuluh Darah” dinyatakan bahwa Cath-Lab atau Kateterisasi jantung adalah tempat melakukan tindakan kateterisasi (memasukkan selang kecil ke dalam pembuluh darah arteri atau vena lalu menelusurinya hingga ke jantung, pembuluh darah lainnya dan/ atau organ lain yang dituju dengan bantuan sinar-X) baik bertujuan untuk diagnostik maupun terapetik. Jelasnya, Kateterisasi jantung atau disebut juga angiogram koroner merupakan suatu tindakan pemeriksaan invasif yang melibatkan pemasukan kateter, sebuah tabung tipis berongga, ke jantung untuk menilai kondisi nyata dari organ tersebut.

Industri 4.0
Sumber: www.mobile-medical.eu

Jurnal “Kateterisasi Jantung: Seuntai Sejarah Panjang” yang ditulis oleh dr. Andy Kristyagita menjelaskan kemunculan Cath-Lab tidak lepas dari buah pikiran para cerdik cendekia yang seakan menjadi gaya dorong bagi bahtera kardiologi untuk bertolak dari zaman William Harley (orang pertama yang menjelaskan sirkulasi darah) ke zaman transplantasi jantung sekarang ini . Karya-karya para pakar terwujud dalam bentuk yang beraneka ragam dan penemuan modalitas diagnostik (cara seorang dokter mendiagnosis suatu penyakit) adalah salah satu di antaranya. Salah satu modalitas diagnostik yang penting dalam kardialogi adalah pemeriksaan kateterisasi jantung atau yang kita kenal sekarang Cath-Lab.

IndiaSupply, perusahaan peralatan medis di India mendeskripsikan pedukung teknologi ini. Sebagian besar Cath-Labs adalah fasilitas “pesawat tunggal” yang memiliki sumber generator sinar X tunggal atau penguat gambar sinar X untuk pencitraan fluoroskopi. Namun sejak tahun 2000, sebagian besar fasilitas beralih ke digital. Digital cath-Labs terbaru adalah biplan (memiliki dua sumber sinar X) dan menggunakan detektor panel datar.

Lanjut! Menurut docdoc.com, kateterisasi jantung juga diperlukan untuk menguji apakah rencana tindakan, pencegahan, atau pengendalian yang dilakukan telah bekerja dengan baik. Cath-Lab tentunya memiliki keunggulan, di antaranya sebagai alat generasi spesifikasi lengkap dan modern, memungkinkan berbagai tindakan intervensi, mampu menghasilkan gambaran tiga dimensi yang dapat menjangkau kepala hingga kaki, dan dapat menampilkan gambaran struktur pembuluh darah dengan sangat jelas.

Itulah beberapa alkes yang telah didukung dengan teknologi canggih seperti Artificial Intelligence (AI). Berangkat dari kondisi ini, Docotel sebagai perusahaan IT yang telah meluncurkan aplikasi SIMRS bernama D’Health, akan memasuki industri distribusi peralatan kesehatan. Beberapa peralatan kesehatan yang telah kita intip di atas tadi ditargetkan dapat diimplementasikan dan didistribusikan Docotel ke berbagai pelosok negeri. Nantinya, alkes tersebut akan diintegrasikan dengan aplikasi D’Health sehingga menambah manfaat utama dari aplikasi itu sendiri. Dengan perkembangan teknologi yang terus berlanjut di bidang medis, tentunya diharapkan akan banyak nyawa yang dapat diselamatkan, ya.

Avatar photo

Lukman M. Ardiansyah

Avatar photo

teresa iswara

1 comment

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.

Most discussed

Advertisement