Docotel Official Blog
Satelit Nusantara Satu

Satelit Nusantara Satu Bikin Internet di Indonesia Ngebut

Saat membayangkan keberadaan satelit tentu pikiran kita melayang jauh ke luar Bumi, padahal fungsinya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari kita. Pada dasarnya, satelit merupakan benda yang mengorbit benda lain dengan periode rotasi juga revolusi tertentu di luar angkasa. Bulan adalah salah satu satelit alami bagi Bumi. Kalau ada satelit alami, berarti ada yang tidak, dong? Benar. Perkembangan teknologi yang semakin maju menggiring manusia untuk menciptakan satelit sebagai karyanya sendiri yang kemudian disebut satelit buatan. Satelit harus diluncurkan ke orbitnya oleh sebuah roket sampai akhirnya dapat beroperasi. Lalu, setiap pergerakan satelit akan dimonitor dari Bumi, tepatnya di stasiun pengendali.

Satelit buatan tidak asal diciptakan dan diluncurkan, lho! Namun, setiap satelit yang dikembangkan tersebut memiliki tujuan atau misi yang dapat memberikan manfaat bagi manusia di Bumi. Pernahkah terpikir bagaimana kita dapat menemukan berbagai siaran acara ketika menonton TV atau radio? Bagaimana kita bisa mengatur posisi penjemputan melalui maps ketika memesan ojek online?

Itulah contoh dari beberapa manfaat satelit buatan yang mungkin tidak kita sadari selama ini. Seperti yang dikatakan Satellite Industry Association (SIA) dalam laporan bertajuk “2017 State of the Satellite Industry Report”, misi satelit terbagi menjadi empat yaitu keamanan nasional, sains, observasi bumi, dan telekomunikasi.

Sejarah mencatat pada 4 Oktober 1957 Uni Soviet berhasil mengorbitkan Satelit Sputnik 1 yang menjadi satelit buatan pertama di dunia. Website resmi National Aeronautics and Space Administration (NASA) atau Badan Penerbangan dan Antariksa milik Amerika Serikat mendeskripsikan satelit Sputnik 1 berukuran seperti bola pantai dengan diameter 58 cm, beratnya hanya 83,6 kg, dan butuh sekitar 98 menit untuk mengorbit Bumi di jalur elipsnya. Setelah Sputnik 1 dilepas di angkasa ada lebih dari 1300 satelit aktif yang mengorbit Bumi kini.

Dari Ratusan Satelit Buatan yang Mengeliling Bumi, Adakah Satelit Milik Indonesia?

Sebelum menjawab pertanyaan itu, kita harus tahu bahwa memiliki atau membuat satelit bukan perkara mudah, dibutuhkan waktu, tenaga ahli, dan juga dana yang besar. Bahkan beberapa sumber mengatakan bahwa satelit bukanlah bisnis yang murah.

Seperti yang ditulis Howstuffwork.com, dana yang dikeluarkan untuk sebuah satelit cuaca bisa dibandrol 290 juta US$ sedangkan untuk sebuah satelit mata-mata mencapai 100 juta US$. Selain itu, ada biaya lain seperti alokasi untuk maintenance dan perbaikan satelit.

Kembali ke pertanyaan awal, ya, tentu saja Indonesia sudah punya satelit sendiri. Kita patut berbangga karena sejak 8 Juli 1976 pukul 19.31 waktu Florida, Amerika Serikat, atau bertepatan dengan 9 Juli 1976 pukul 06.31 WIB, Indonesia telah berhasil mengorbitkan satelit bernama Palapa A1 milik Telkom Indonesia.

Satelit komunikasi Palapa A1 ini dilucurkan dari Cape Canaveral Kennedy Space Centre Florida. Roket peluncur yang digunakan adalah Delta 2914 buatan McDonnal Douglas dan ditempatkan pada orbit geostationer di posisi 83 derajat bujur timur (BT). Satelit ini berfungsi sejak 16 Agustus 1976.

Satelit Nusantara Satu, Satelit Berkapasitas Tinggi Pertama di Indonesia

Kembali menjadi kebanggaan, pada 22 Februari 2019 sebuah satelit yang dinamai Nusantara Satu berhasil mengorbit menggunakan roket Falcon 9 dari SpaceX. Nusantara Satu merupakan satelit milik PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN), perusahaan telekomunikasi berbasis satelit swasta pertama di Indonesia.

Menurut Space System Group Head PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN), Johanes Indri kepada suarakarya.id, Space X terbukti memiliki nama dan rekam jejak bagus di Industri ini sehingga Indonesia percaya untuk menggandeng perusahaan tersebut.

Dalam website resmi PSN, satelit yang semula disebut Satelit PSN VI ini merupakan satelit pertama di Indonesia yang menggunakan teknologi High Throughput Satellite (HTS). Teknologi tersebut akan memberikan layanan internet broadband dengan kapasitas jauh lebih besar dibandingkan dengan satelit konvensional yang saat ini ada di Indonesia.

Selain berkapasitas tinggi, satelit buatan Space System Loral (SSL), sebuah perusahaan teknologi asal Amerika Serikat ini pun menggunakan teknologi Next Generation Electric Propulsion. Teknologi ini membuat biaya satelit menjadi efektif dan efisien karena berat satelitnya menjadi sangat ringan.

Direktur Perencanaan dan Pengembangan PSN, Dani Indra Widjanarko menjelaskan satelit Nusantara Satu menggunakan platform SSL-1300 140 dengan usia desain selama 15 tahun, memiliki 38 transponder C/Ext-C Band dan 8 spotbeam Ku-Band dengan total kapasitas hingga 15 Gigabits Per second (Gbps), berat pada saat peluncuran sebesar 4.735 Kg, serta memiliki Spacecraft Power (EOL) sebesar 9985 watt.

Penasaran seperti apa wujud Satelit Nusantara Satu? Nah, inilah potret satelit telekomunikasi canggih milik Indonesia!

Satelit Nusantara Satu
(Source: psn.co.id)

Jaringan Internet di Indonesia akan Ngebut

Berlokasi di pabrikan teknologi asal Palo Alto, Amerika Serikat, Satelit Nusantara Satu berhasil dirakit dengan menghabiskan dana senilai US$230 juta atau setara dengan Rp32 triliun. Dana yang besar tersebut diharapkan akan sebanding dengan keberhasilan misi proyek, yang digadang-gadang akan membantu 25 ribu desa di berbagai pelosok negeri agar bisa mendapatkan koneksi internet lancar.

Dengan mengorbitnya satelit jenis telekomunikasi ini, ditargetkan jaringan internet akan lebih cepat hingga 25 Mbps dibandingkan satelit konvensional yang hanya 5 Mbps. Beberapa operator seluler akan menggunakan satelit Nusantara Satu untuk backhauling layanan internet mereka.

Hal tersebut tidak lepas dari fasilitas teknologi HTS yang digunakan. Dengan jaringan internet Indonesia lebih cepat, nantinya akan memberikan dampak dalam meningkatkan berbagai perlayanan, baik pemerintahan maupun swasta.

Memang tidak bisa dipungkiri saat ini berbagai jasa dan layanan sudah berbasis online, misalnya mulai dari ambil antrean paspor, bayar pajak, perpanjang SIM, beli barang, transfer uang, bahkan bermain games. Semua aktivitas itu dilakukan menggunakan internet. Keberadaan satelit Nusantara Satu di antariksa bertujuan membantu kelancaran berbagai kegiatan masyarakat Indonesia tersebut.

Wah, kalau gini nggak ada lagi acara marah atau kesal karena koneksi internetnya lama, ‘kan?

Lukman M. Ardiansyah

Lukman M. Ardiansyah

teresa iswara

teresa iswara

Add comment

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.

Most discussed